Rabu, 18 Oktober 2017

Senin, 09 Oktober 2017

Annie are you ok?

I am Annie

Today he asks me multiple times if I am alright, fishing for an answer
Noting whether my letter was of a desperate call for help or of a concrete matter
I told him I was not ok, but I currently am.
And there he silently observes me, horrified of what I am

And he promised to help support me with tears forming in his eyes and with voice trembling
He was relieved to see me before him, behind his forced smiling
He is a father, he knows better that the last thing he wants to hear from a daughter is what I have said to him.

And so he knows he can no longer fuse the situation and subtly begs me to stay.
"Don't do it, my dear. Don't do it at all" he says
And so I return his promise with a promise that I will stay.

But then they ask again, "Annie, are you okay?" to me
And I can't even speak because I'm fucking dead already 😂

Selasa, 03 Oktober 2017

I'm alive

19 years and I'm standing here
19 years and I'm still drawing breaths
4 years and I'm still battlling.

I'm grateful that I get to see another day yet

Minggu, 01 Oktober 2017

*TRIGGER WARNING* It's killing me

When somebody told me I'm beautiful, I'm intelligent, I'm worthy, I'm a good person, and that I deserve to live, I replied with a smile.
I just wish that I believe them.

Selasa, 19 September 2017

RANT (ALL SMART PEOPLE PLEASE SKIP THIS)

My close friend is on her way to becoming a researcher with all her life planned out ahead of her. She has a clear vision of what she wants to be, speaks 3 languages, travelled the world and writes  so damn well. She's everything I always want to be but can't. She's my age. So age is not an excuse for me.
My bestfriend works hard every midnight to deal with high amount of projects from her art university. I'm studying psychology. Major should not be an excuse for me.
My other friend who is also asian like me is a hardworking genius who prepares for everything and is intimidatingly ambitious. But he's also a sweet guy who's kind to everyone. So culture is not an excuse for me.
My german friends are all hardworkers, searching for internships, moving freely, working overtime in the library every day with so much passion that I'm even ashamed of myself.
One of my friend has a work in airport that pays for his tuition and he's still young. I haven't worked shit in my whole entire goddamn life and I'm ashamed as hell.
My friend who has a mental illness is travelling the world, have many experiences of volunteering, speaking multiple languages and succeeds in her own way. So bad mental health is not an excuse for me.
My senior who has the same belief as I do worked hard, participated in every event, took every chance, danced two choreographies and played the angklung during the cultural event, did not go home for 2 years and still kept his shit together. So being religious and missing home is not an excuse for me.

I ain't done shit in my 19 years of life. I'm fucking aimless and I hate myself.

Minggu, 17 September 2017

Realita kuliah di luar negeri

Apa yang muncul pertama kali di benak kalian jika mendengar kata "saya kuliah di luar negeri"?
Apakah "Pasti orang elit yang ga lulus SBM"? Atau "Pasti jalan2 terus keliling dunia, belanja-belanja barang bermerk"? "Hidupnya pasti berfoya-foya, bak priyayi istana"? "Pasti sombong orangnya"? Atau malah "Oh makanya kamu begitu ya(membuat asumsi bahwa paham saya terpengaruh dengan tempat saya belajar , tergantung di negara yang sisi politiknya kemana)"

Sebaik apapun bertutur kata pasti selalu ada saja yang mencibir. Memanglah yang saya sebutkan hanya yang saya anggap negatif. Ini karena komentar negatif lebih mencolok dibandingkan banyaknya komentar positif yang saya terima. 

Memang, saya tak berhak menerima pujian. Saya berhasil studi ke Belanda sekarang atas bantuan banyak orang. Guru saya, kepala sekolah saya, orangtua saya, keluarga besar saya, semuanya punya peran dalam mewujudkan cita-cita saya. Karena hal ini, mengambil kesimpulan jika saya berhasil "hanya karena bapak banyak duit" itu tidak pantas karena mengucilkan perjuangan guru saya, keluarga besar saya dan saya sendiri dengan menyederhanakan kisah saya. Sekarang saya yang bercerita. Maka dengarkanlah.

Pertama-tama, ini bukan sebuah komplain. Tulisan saya bukan untuk menjatuhkan/menaikkan derajat suatu kaum. Saya tidak memihak, saya tidak mengeluh, saya hanya ingin memberi tahu realita sekolah diluar negeri agar orang indonesia bisa realistis sebelum mengambil keputusan. Saya ga butuh komentar "manja amat sudah enak sekolah diluar negeri masih ngeluh". Tulisan ini bukan keluhan. Tulisan ini adalah hasil observasi hidup saya dan teman-teman saya selama 1 tahun di Belanda, agar semua orang tahu kenyataannya. 

Sebelum pembaca mulai nyinyir lagi "kok bahasa indonesianya aneh sih", saya akan mulai perkenalan dahulu. Saya lahir di Surabaya, tetapi keluarga besar ibu kandung saya adalah orang Dayak (Kalimantan Tengah) yang bermigrasi ke Banjarmasin (Kalimantan Selatan) yang lalu bermigrasi dan menetap di Surabaya. Nenek ayah saya berasal dari Cirebon, tetapi turun-temurun menetap di Tulungagung (Jawa Timur). Waktu saya kecil, saya mendengar banyak bahasa. Bahasa ibu saya bahasa indonesia yang dicampur bahasa banjar. Maka logat saya cepat dan saya belajar tata bahasa dengan pengaruh melayu. Lalu saat saya pindah rumah, saya juga pindah sekolah ke sekolah bilingual. Sekolah bilingual adalah sekolah yang memakai dua bahasa, waktu itu bahasa indonesia dan bahasa inggris. Saya dituntut untuk mampu berbahasa inggris setiap hari, saya mati-matian belajar sepanjang SD dan tidur dengan kamus indonesia-inggris di samping saya. Semua orang yang bisa lebih dari 1 bahasa pasti mengerti betapa susahnya mengartikan kata-kata satu2, Seperti guru saya yang pernah berkata "tapi orang itu, apa ya, kalo bahasa jawanya ngalem gitu lo".

Cukup soal bahasa saya. Mari kembali ke topik awal. Bagaimana orang bisa tahu suasana kuliah diluar negeri seperti apa? Tahu cukup, sampai bisa membuat asumsi tentang orang yang kuliah diluar negeri?
Tapi apa yang kalian lihat di film?

Sahabat-sahabat yang mengejar mimpi lalu ada pertikaian dan cinta segitiga?  Seru-seruan travelling melihat bangunan-bangunan eropa yang apik? Perjuangan  keras merantau yang tiba-tiba dibumbui cerita cinta dan perjuangannya jadi kalah valid dengan kekuatan cinta? Aktor setengah bule yang sudah cantik sesuai beauty standard indonesia (yg ironis dan tak adil)? Apartemen bagus dan baju mewah bermerk? Belanja dan bersepeda di udara yang bersih? Terdampar di suatu negara dan menikah dengan bule ganteng?

Saya tak bisa bilang semua yang tersebutkan itu salah.

Tapi tak ada kisah tentang kami yang bersepeda sambil diterpa angin ganas dan salju hanya demi kuliah. Tak ada cinta di kisah kami, hanya semangat demi cita-cita dan solidaritas sesama orang indonesia yang merantau. Tak ada kisah tentang takut visa dicabut. Tak ada kisah tentang homesickness, tentang betapa sendirinya mahasiswa indonesia yang diluar negeri, yang tak bisa travelling karena menyimpan uang untuk pulang bukan pas lebaran. Tak ada kisah tentang  pengalaman rasisme dan diskriminasi (walaupun di Belanda, untungnya, sangat jarang terjadi). Tak ada cerita tentang dikucilkan karena bermuka asia tapi kepala berkerudung. Tak ada cerita tentang kelewatan ngucapin selamat ulang tahun karena perbedaan waktu, tak ada kisah tentang tak bisa datang ke pernikahan teman dekat di indonesia, tak ada kisah tentang adik-adik yang tiba2 sudah dewasa sewaktu kami kembali.

Tak ada kisah tentang korupsi moral dan krisis iman, tak ada kisah tentang pembaruan moral dan penemuan iman. Tak ada cerita tentang repotnya mengurus tuition fee dan jarang makan demi ngejar waktu kuliah. Tak ada kisah tentang harus kerja part-time karena perusahaan/orangtua terlambat ngirim uang karena kurs yang berubah-ubah. Tentang bawa botol air ke toilet karena gaada shower, tentang absurdnya naruh kaki di wastafel waktu wudhu. Tentang puasa 19 jam sambil sepedaan sementara yang lain makan dan merayakan hari raya jauh dari rumah. Tentang susahnya mencari gereja dengan bahasa yang dimengerti.

Tentang berdoa seorang diri karena tak ada yang beragama sama, tentang mengutuk Tuhan karena tak ada yang berpendapat sama. Tak ada kisah tentang menghalalkan segala cara demi lulus ujian dan coba-coba ganja (yang diperbolehkan kalau sedikit di Belanda) karena stres. Tentang terlalu banyak merokok, tentang berkunjung ke klub-klub murah  dan minum-minum sampai setengah gila. Tentang adaptasi dari culture shock yang tidak sebentar, repot sendiri kalau sakit berat, dan, yang paling sering diabaikan tapi ini benar-benar terjadi,  (dengar dari teman2 indo di Jerman) menurunnya kesehatan jiwa karena stres kuliah dan adaptasi sampai depresi dan bunuh diri hingga meninggal di negeri orang. Dan yang paling suram: tak ada cerita tentang mahasiswa yang tak tahu seperempat anggota keluarganya sudah meninggal semua selama dia masih studi, dan dia ga bisa ngapa-ngapain. Dia ga bisa ngelayat, ga ingat kapan terakhir kali ketemu mereka, ga ikut 40 hariannya dll.

Fiksi tidak menunjukkan pengorbanan yang lekat dengan realita mahasiswa indonesia diluar negeri. Ini hanya sebagian kumpulan kisah dari teman-teman saya dan pengalaman pribadi, bukan cerita sepenuhnya. Untuk yang ingin menulis novel dengan setting kuliah diuar negeri, mohon semua faktor ini dianggap. Kalau kamu orang yang ingin kuliah di luar negeri, tanyakan dirimu sendiri lagi

Kamu yakin?

Senin, 11 September 2017

Aaron's pre-surgery speech

Every day that I am awake not feeling fatigued
Every moment that I indulge in streams of laughter
Every hour that concerns are no more after me
Every second of a felt cheer and content with how I am
And found myself still taking breaths
And found myself living my life as I am
And found my eyes widely awaken with a smile forming upon my lips
Are my small victories against my lifelong disease
And I shall cherish it. For the battle is lifelong and I am a fighter. Eventually I win because I have chosen to live.

And I may never die a saint
But I will take my chance to live as a good man.

*"man" as in "human race"