Selasa, 26 Juni 2012

Review Film Soegija! *SPOILER ALERT*

Hey guys!
Ini pertama kalinya aku nulis review film
Yaitu film : Soegija..
Yakk, dimulai ya?

Jadi pertama-tama aku harus muji settingnya..bintang 4 deh buat settingnya...kelihatan banget jadulnya...
Tapi ada satu scene, dimana ada wanita belanda lagi ngetik tu rambutnya sekarang banget!

Untuk titlenya sendiri, Soegija, keagamaan disini hanya menjadi background. Kalaupun ada praktek agama, itupun diperlihatkan secara brief. Plot ceritanya BUKAN TENTANG KRISTENISASI.

Untuk cara penyutingannya ya, layak dipuji, lah. Tapi si kameramen kebanyakan pake teknik 'geser'. Maksudnya kaya gini (ceritanya gausah dilihat,lihat cara nyutingnya aja) :

Antara 0:17-3:23. Kira-kira ada 2 kali adegan dalam film yang disuting dengan cara kaya gini.

Pemainnya, Aku salut sama Annisa Hertami yang jadi Mariyem. Dia membawakan suasana agak feminis dan karakter gigihnya dia keliatan banget disitu, bagus kaya pemain teater. Jadi setiap dialog yang dibawakan, ekspresi wajahnya bisa langsung berubah. Monolognya kelihatan nyata

Lalu Aku juga suka sama perannya Wouter Zweers disini (yang jadi Robert). Karena dia stage actor, jadi aku maklumi kalau dia mainnya agak lebay atau gila, tapi justru itu yang bikin bagus. Aku suka karakternya yang pertamanya seenaknya, yang nganggepin dirinya 'mesin' perang terhebat lama-lama jadi 'luluh' gara-gara lihat bayi. Setiap gerakan kecil terlihat halus dan dramatik, sementara dialognya mengingatkan kita kepada film "Inglorious Basterds".

Dan entah kenapa pemeran utama Soegija, Nirwan Dewanto, kurang berkesan buatku, Soalnya, di awalan scene dia banyak muncul, tapi sering absen di tengah-tengah film. Film ini sepertinya lebih fokus ke cerita 'rakyat' selain soegija sendiri.

Kalau saya bilang, Soegija ini, lebih ke menceritakan bagaimana seorang rakyat bisa 'jatuh' karena kehidupan traumatik yang dialami selama jaman penjajahan. Contohnya perpisahan antara keluarga, atau barang-barang yang dirampas saat perang.

About the joke, candaan yang ada di film ini kebanyakan masih mudah dicerna, tapi ada salah satu candaan yang mengganggu buatku, yaitu pas adegan si Robert membahas surat dari ibunya lalu tertembak, sama si banteng yang baru bisa baca 'merdeka'. Terus banteng ngomong "Kamu sekarang gak bisa baca, kan. Aku bisa baca nih, 'merdeka'" gtu. Ya gaenak aja menurutku, lagi dramatis, tiba-tiba di-interrupt. Aku paling gak ketawa ya pas bagian itu, Kasihan tau, Robertnya. Dan pak Besut, reporter yang membawa senyum mjuga, terutama pas ia mengatur radio.

Film ini bisa kubilang agak netral. Soalnya sisi kemanusiaan masih diiperlihatkan dari perspektif penjajah. Terutama komandan (maaf aku gatau pangkatnya) jepang yang sayang keluarga dan gak tega-an sama anak-anak, Juga pas Robert mungut bayi yang ayahnya (atau bukan?) barusan dia tembak. Bahwa penjajah masih punya hati, begitu.

Ada adegan lelucon yang rasis juga, yang aku kurang suka, yaitu pas si Hendrick (Fotografer belanda temennya Robert) dinyanyiin lagu 'ejekan' sama 'bocah demit' cs sambil dilemparin batu.

Untuk bahasa, ada bahasa jawa, bahasa indonesia, bahasa inggris (sedikit banget) dan bahasa belanda. Ada beberapa adegan di awal film yang berbahasa jawa tapi tanpa teks. Ini sempat membuatku bingung juga...

Film ini agak artistik juga. Maksudku, ada banyak adegan menyanyi sama berdansanya ataupun musiknya.

Notable Scene yang artistik :
Nyanyi : Hendrick sama Ibu pemilik hotel surya, Hendrick sama Robert di sepeda motor, Ibu di klub belanda di awal scene, Paduan suara di suatu pertunjukkan, beberapa adegan di gereja, Hendrick nyanyi di dalam kamar, nenek-nenek di pengungsian nyinden, 'Lagu' penjual jamu.
Dansa : Lingling ngajak Soegija dansa, Lingling sama Ibunya Dansa, Orang-orang berdansa di klub di awal-awal scene.
Musik : Adegan Soegija mainin 'Bengawan Solo' dengan biolanya, orchestra gereja yang terlihat bermain biola di gereja di 2 adegan yang berbeda, Orchestra gereja bermain biola di hadapan 'rakyat', Orchestra gereja bermain biola di tengah lapangan yang dibom.


Pembahasan Rating, mungkin menurutku Restriced, soalnya violencenya lumayan banyak, sama jalan ceritanya agak confusing

Profanity : Ada beberapa kata misuh dalam bahasa jawa

Violence and Gore : Foto yang diambil Hendrick kebanyakan korban perang, Adegan di rumah sakit atau di pengungsian, ada korban yang berdarah-darah (brief), Ada satu adegan dimana penjajah jepang diserang orang-orang untuk merampas senjata (gak kelihatan), Ada adegan perang (brief), Ada adegan pemancungan (gak diliatin, tapi ada suara pedang),

Alchohol and Drug uses : ada adegan di klub (3 menit-an), Ada adegan pas tentara-tentara belanda minum-minum (botol ditunjukkan)

Ada adegan pas Hendrick flirting sama Mariyem

Intense scene : Ada adegan pas stasiun radio Pak Besut bergetar gara-gara bom, 2 Tentara belanda ditangkap tentara jepang, rumah warga digerebek tentara jepang dan belanda, ada adegan pas gerejanya soegija mau dibangun jadi markas jepang

Emotional scene : Ada adegan pas kakaknya mariyem mati, ada adegan pas kamarnya hendrick dilemparin sama batu, terus dia nyanyi, supaya gak meratiin batunya (gatau, tapi itu agak emosional buatku), sebenernya agak banyak sih, tapi aku lupa..

Adegan yang mirip sama film lain :
Pas orchestra gereja main biola di tengah lapangan rumput, ada bom jatuh di backgroundnya, terus soegija bilang "Tetap main! tak ada yang bisa menghentikan musik kita!". Lalu orchestranya bermain lagi. Adegan ini menurutku mirip adegan dalam film 'Titanic', somehow...

Jadi mungkin ya itu dulu, aku mau inget-inget filmnya, baru nanti ku-update...

Cheers \m/



Tidak ada komentar:

Posting Komentar