Sabtu, 25 Mei 2013

Cerpen : Salah, kah?


…………………
……………….
Aku bukan robot,
Aku bukan boneka,
Aku bukan mobil-mobilan yang terjebak dibawah tempat tidur
Aku adalah masa lalu, aku adalah cermin untuk masa depan
Dan kau tak bisa melarangnya…
……………..

1952

Hari itu hari yang cerah. Matahari bersinar cukup terang tapi tehalangi oleh awan mendung yang sedang berebutan arah mata angin. Sebenarnya cuaca cukup dingin untuk orang sepertiku. Suasana di taman cukup ramai. Ada seorang lelaki di dekat pohon,berbaju setelan jas abu-abu dan dasi hitam yang tidak rapi. Dia mengambil sebatang rokok dari jasnya lalu mulai menyalakannya, lalu bersandar. Dia jelas kelihatan kecewa, dan sedih. Kesedihannya berubah menjadi emosi yang histeris ketika ada seekor ulat bulu jatuh di punggungnya.

Mungkin ini sesuatu yang sering disalah artikan seseorang. Apalagi kalangan ‘orang dewasa’. Sebagai “anak-anak”, aku cukup mengerti apa yang dialami orang di sebelahku. Aku sudah langsung mengerti dari ucapannya seraya kedua mata bulatnya berbinar-binar.  Tapi dari ‘kebinaran’ itu, raut mukanya langsung mengkerut, dan matanya yang tadi berbinar menjadi berkaca-kaca.

“Aku gatau harus ngapain….” Komplainnya. “kamu udah tahu kan, mereka kaya gimana?”

Aku menatap tajam matanya

“Apa maksudmu?”

“Kupu-kupu.” Katanya. “Seekor makhluk yang indah. Spektrum warnanya menghiasi taman ini. Lihatlah ia terbang menujumu”

Hah?

“Iya, cantik warnanya…” kataku melihat kupu-kupu hinggap di pundakku.

“Apa dia bahagia?”

“Maaf?”

“Dengan semua keindahan yang dia miliki? Apakah dia bahagia?” tanyanya.

Aku terdiam sejenang. ‘Anak’ disebelahku ini membuatku merenungi.

“Aku juga termasuk orang yang ‘berkecukupan’. Tapi menurutku aku malah ‘kebanyakan’. Tapi apakah aku bahagia? Sepertinya tidak. “ Katanya. “Aku capek harus mengungsi ke negeri orang. Kenapa aku tidak bisa tinggal di negaraku sendiri?”

Aku tersanjung. Tidak banyak orang seperti dia yang mau bicara seperti itu. Apalagi denganku.

“Ayahku sangat fasis” katanya. “Dia tergila-gila akan negara aslinya, dan melarangku untuk menikahi orang dari negara lain, kelak”

“Tapi negaraku adalah Negara gagal. Kemiskinan selalu melanda dimana-mana.” Lanjutnya.

Aku langsung tertegun. Bagaimana tidak, pembicaraan kami daritadi kemana-mana.


Tiba-tiba mataku memerhatikan sebuah gelang kertas di pergelangan tangan ‘anak’ tersebut. 213, tulisnya.

“Kau takkan mau tahu itu untuk apa” katanya. “Aku hanya berusaha mencari teman…dan mereka menghalangiku.”

“Siapa mereka?”

“Lupakan saja”

Aku terdiam. ‘Anak’ itu lalu menawarkan sebuah roti kering padaku.

“Makasih” kataku.

“Kau tahu, hidup sekarang lebih gampang daripada 10 tahun yang lalu…” Lanjutnya. “Aku harus hidup nomaden karena bom yang dijatuhkan penjajah.”

Aku hanya tersenyum seraya melahap roti yang diberinya. Rasanya agak aneh menurutku.

“Kau tahu, bahasamu agak puitis untuk seorang ‘anak’ sepertimu…” Nada bicaraku sengaja kurubah saat berkata ‘anak’. Karena aku tahu dia bukan ‘anak-anak’ biasa. Mungkin karena tubuhnya kecil saja untuk orang seperti’nya’.

“terima kasih.”

Aku mulai merasa gelisah berada di dekatnya.

“Kau tinggal dimana?” tanyaku kepadanya.

“Aku tak ingat alamatku sendiri” katanya.

Aku hanya tersenyum sopan. Aku tahu aku tidak boleh mengatakan itu di depannya. Itu akan menghinanya.

“Rotinya enak?” tanyanya dengan nada senang.

Di dalam pikiranku sudah terdapat banyak hinaan untuk roti yang kumakan. Rasanya seperti….aku bahkan tak bisa menjelaskannya.

“Aku membuatnya sendiri…” Katanya.

Hinaan yang tadi sudah di ujung mulutku, langsung kutelan kembali. Aku tahu aku harus tetap membuatnya 
bahagia.

“Enak…” Kataku berbohong.

“Baguslah…”tambahnya.

Aku terdiam lagi. Angin meniup rambut pendek bergelombangku. Rumput mulai mencolek-colek bawahan rok poodle merah polkadot ku.

“Kedinginan?” Tanyanya.

Aku menggeleng sambil tersenyum sopan. Aku harus tetap sopan, jangan langsung pergi….

Aku lalu mengambil koran tempo dari tasku. Koran bertulisan cetak besar yang dapat dibeli murah di stasiun, biasanya 5 rupiah…

Aku mulai membalik-balik halamannya. Aku bahkan belum terlalu mengerti bahasanya. Bahasa mereka terlalu susah untukku. Tapi mataku hanya tertuju pada satu foto di halaman agak belakang. Mungkin yang ku rasakan saat itu adalah antara ketakutan dan kegelisahan. Akhirnya, Koran itu kulipat kembali dengan cepat.

“Ada apa?” Tanya anak itu lagi.

“Tak apa…” kataku berbohong.

Pantas daritadi aku merasa ada orang melihat kami dari jauh. Si orang bertudung di seberang jalan itu.

“Kau tahu,” katanya. “Terkadang aku ingin merasa bebas sekali-sekali. Seperti kupu-kupu tadi. Sesekali aku ingin keluar. Tapi aku akan kembali lagi…”

“Aku tidak ingin berada di frontline terus…” tambahnya. “Kapan aku akan menemukan ketenangan kalau aku hanya perang?”

“Apa kabar negeriku sekarang? Apa kabar orang-orang disana? Aku selalu ingin melihat, walaupun cuma sekali. Aku ingin tenang”

“Kalau begitu pergilah dimana mereka tidak akan menemuimu.” Kataku, memotong pembicaraannya. “Ini ada uang. Belilah tiket kereta dan pergilah semaumu”

“Benarkah?”

“Iya pergilah dari sini!”

“Terima kasih! Kau baik sekali, nona!!!!” matanya berbinar-binar seraya melompat dari bangku. Dia menumpukan tas warna abu-abu kehijauan di pundaknya, lalu pergi menjauh.
Aku menggeleng-geleng kepala saat melihat ia pergi. Tetapi emosi sopan tadi langsung kurubah. Aku langsung tertawa terbahak-bahak. Orang bertudung itu berlari menuju aku.

“APA MASALAHMU???” Katanya berteriak marah. “Aku hampir kaya!!!”

“Ayolah, kak, biarkanlah dia pergi…” kataku di sela-sela tawaku. “Kau tidak bertemu orang sesemangat itu setiap tahun”

“Semangat apa?”

“untuk bebas. Dia punya kemauan tinggi untuk melihat kabar negaranya. Dia tak mau dikurung terus. Dia tetap gigih walaupun sudah lewat 7 tahun”

“Tapi dia berbahaya!”

“Tidak. Dia hanya butuh untuk didengarkan. Dia hanya butuh dihargai. Dia butuh orang untuk diajak omong, itu saja.”

“Dasar kau, licik..”

“Ayolah, kak, jangan terlalu matre. Ayo kucarikan tentara gila, lagi….”

“Diam, kau!”
---------------------------------------------------------------------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar