Selasa, 05 Agustus 2014

Penghuni Jahat

So, as I said that I was working on a rhyme, which is in indonesian, here it is. I find this one funny due to the video game reference, but the video game and its content do not belong to me, this is just some sort of a fan fiction. Thanks a lot for my dad and my sister, who had helped me in a search for a 'right' word :D. This is, so far, the longest rhyme I have ever written. Here we go :

Penghuni Jahat
By Yvonna Faust

Gadis itu berkulit terang
Terkadang gelap diterka siang
Ia bermantel hitam dan bercelana kelabu
Boots eboni untuk sepatu

Sendiri, Ia berkeliaran
Memandang sekitar, mengharap makanan
Ia berpapasan dengan reruntuhan kota
Tempat itu bukanlah tempat untuk gadis belia

Ia menuruni lembah
Tempat tinggalnya gua kecil
Di seberang fjord yang lapang
Dekat dengan matahari

Disana adalah rumah Leona muda
Rambutnya ia urai lepas
Ia merebah di tempat kesayangannya
Lalu menyetel lagu lawas

Malam mencekam dan tidak bersahabat
Leona muda menggigil kedinginan
Ia terduduk, menuliskan wasiat
Apabila ada hal yang tak diinginkan

Malaikat pencabut nyawa
Hanya bercanda dengannya
Belum waktunya ia mati
Ia terlelap seperti bayi

Esok hari
Berhari hari ia mengasah belati
Untuk hal yang dia tak taruh hati
Untuk menghindari bahaya
Dari mereka yg dulunya manusia

Mereka, yang merusak harinya
Mereka, yang mengacaukan ulang tahunnya
Mereka, yang membunuh orangtuanya
Mereka, yang buat ia setengah gila

Ia berkhayal tentang hidup lampaunya
Kala waktu ia merasa sendiri
Temannya hanya laba-laba
Dan senjata api dari mayat polisi

Ia terbayang orangtuanya
Tatapan hangat ayahnya
Sentuhan lembut ibunya
"Selamat ulang tahun sayang"

Hari itu masih dini
Lampu kamar Leona masih mati
Orangtuanya bernyanyi
Ditemani kue dan lilin
Leona senang bukan main

Ibunya memberi sepatu baru
Ayahnya memberi sebuah kartu
Dan berkata "Ini spesial"
"Untuk gadis yang berulang tahun!"

"Makan malam khusus untukmu"
Tulis kartu itu
"Jangan undang yang saya tak tahu"
Tambah Leona, masih terharu

Orangtuanya berkata
Tapi kami harus bekerja
Pergilah duluan
Menantilah jam lima
Dan ajaklah yang kau anggap teman

Sorenya
Leona menanti kedua orangtuanya
Sahabat karibnya ikut setia
Ini harinya, Ia tak sabar
T mendunia, Ia tak sadar

Leona tak pernah jadi pemesta
Kawannya hanya dua, atau tiga
Tapi jika ada, mereka tak hendak pisah
Karena hubungan yang begitu dalamnya

"Kenapa mereka lama?" Pikir Leona
"Astaga!" Seru sahabatnya
"Teleponku tertinggal di rumah!"
"Saya kan ambil disana"

Leona akhirnya menanti
Bukan dua, tapi tiga
Leona terduduk sendiri
Menunggu orang-orang yang ia cinta

Dua jam berlalu
Ia menunggu
Dan melihat seseorang di depan pintu
Berjalan bagai diseret, gerakannya kaku
"Siapa itu?"

Leona baru menyadari
Seharusnya ia tak tanya
Seharusnya ia lari
Karena itu bukan manusia

Ia beranjak terkejut dari kursinya
Saat makhluk itu masuk dan mengejarnya
Ia terbirit-birit, berarah ngawur
Lalu sembunyi di dapur

Makhluk itu mendesis dan parau suaranya
Darah dan daging melengket di mulutnya
Di tangannya ada luka tak tertutup
Taringnya siap mengoyak yang hidup

Leona berdoa kepada Sang Kuasa
Agar selamat keluar dari dapur
Setelah ia tahu kesempatannya
Ia merayap untuk kabur

Keberuntungan tak memihaknya
Makhluk itu menoleh kepadanya
Leona ketakutan, ia berdebar-debar
Makhluk itu menatap lapar

Makhluk itu melompat ke arahnya
Sekilas, ia masih setengah manusia
Makhluk itu mencoba menggigitnya
Leona histeris, berjuang untuk nyawanya
Dan sadar akan adanya senjata

Ia menendang lepas makhluk itu
Lalu lari terburu-buru
Untuk mengambil pisau
Sebelum keadaan tambah kacau

Makhluk itu menyerang dan ia menusuknya
Dan menembus kepala, sebelah dahi
Makhluk itu menggelepar dan berdarah
Sadar diri, Leona menatap ngeri
Karena nyawa pertama yang diambilnya
Adalah sahabatnya sendiri

Mata birunya berkaca-kaca
Temannya, sahabat karibnya
Sejak masa kecilnya
Sudah tiada

Tragedi itu dihempas oleh ketukan
Bukan, bukan ketukan
Gedoran. Gedoran penuh amarah
Ia langsung menghapus air matanya

Ia mengintip dari jendela
Diluar berkumpul orang-orang terluka
Yang menyenggak parau, mendesis
Dan berteriak histeris

Leona panik, ngeri
Harapnya ini mimpi
Dan bertanya ke diri sendiri
"Yang gila saya
Atau orang semua?"

Leona melihat televisi di dalam restoran
Matanya menatap ngeri dan heran
Katanya, "Warga, cepatlah mengungsi"
"Kota Rakun tak aman lagi"

Ia berlari keluar dari restoran
Setelah mencabut pisau dari kepala temannya
Air matanya tak mampu ditahan
Dihantui dosa dan kesalahannya

Lagi, isakannya terhenti
Makhluk-makhluk itu mengejar yang lain
Mereka berkeliaran lepas di jalanan
Manusia mereka anggap makanan

Ia berlari, mencari orangtuanya
Dan menoleh ke seberang jalanan
Mobil itu terbalik dan berasap
Leona kenal nomor polisinya

Hatinya hancur, tak percaya
Melihat mayat orangtuanya
Ayahnya tinggal tulang saja
Makhluk itu mengoyak ibunya

Ia marah, menggila
Masa remajanya direnggut sia-sia
Kepolosannya hilang seketika
Makhluk-makhluk itu dibantainya

Jam mendetikkan waktu berdarah
Hidup jadi keras seketika
Yang hidup biarkan saja
Yang suri bunuhlah ia

Rambut pirangnya sudah kusam
Lalu ia bernyanyi sendiri
Untuk lupakan hal-hal kelam
Yang telah dia alami

Ia merayap di tembok rumahnya
Dan menyambut matahari
"Kayu bakarnya habis" katanya
Pada diri sendiri

Ia melangkah keluar gua
Dan berjalan dengan hati-hati
Tiga bulan membuat awas dia
Di kantongnya ada senjata api

Ia kembali dengan setumpuk ranting di genggamnya
Ia duduk lalu menggosokan kayu-kayu
Enam belas tahun ia hidup di dunia
Bila api tersulut, Ia tetap tak tahan haru

Ia mengambil potongan kaca dari sakunya
Ia gunakan untuk memotong ikan
Yang mati ditembaknya
Untuk persediaan makanan

Kaca itu rapuh, lemah
Hampir pecah karena tekanan benda
Kaca itu retak di tengah
Leona melihat dirinya

Bayangannya jelas di retakan kaca
Yang ia lihat hanya manusia yang hilang
Yang ingin bertemu keluarganya
Yang hanya hendak pulang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar