Sabtu, 20 September 2014

Analyzation of "Penghuni Jahat"

This will be another analyzation of my own work, which is a rhyme. So this rhyme is clearly a spoof for the survival-horror game Resident Evil. But I don't own Resident Evil and there characters and other properties, this rhyme was just a fan fiction, they are all belong to Capcom.

I also modeled Leona from Leon Kennedy, as you can obviously see from their names. The other similarities that they both have is they both faced the zombie apocalypse unprepared. While Leon is a rookie, Leona is only a teenager celebrating her birthday.  I made Leona a teenager to emphasize the struggle she has to face to survive, both physical and emotional. But unlike Leon, which probably had some training in his previous academy, Leona has no fighting skills. She learns from experience, one zombie after another, which is physically challenging for a girl that rarely goes out from her home (This is implied). Teenagers are not yet emotionally mature, which would explain her temper when she killed the creatures unforgivingly after she saw them mauling her parents. Her innocence she once had suddenly lost in a day, due to the fact that she must kill her best friend to protect herself. The main theme of this rhyme is loss of innocence and struggles of adolescence.

The death of her parents represent the absence of authority, where teenagers have to have responsibilities without being told what to do and won't need their parents anymore to make a choice. I lost my mom when I had just started high school, so I know what it feels like to be a teenager without complete parents. It's quite confusing sometimes, because I usually ask her which one should I choose for second opinion. But in the end, I make a choice myself.

The line which is about "The creatures" mauling her parents represents Leona's unpreparedness. She still relies on her parents, and suddenly they are taken away. It was a shock for her and maybe all teenagers feel that way when they start high school. This could also symbolizes divorce, because both unpreparedness and divorce has a sense of loss. This line shares similar meaning with when Leona runs away from the restaurant and sees people being chased by zombies. She had entered a 'real' world where people have their own problems and responsibilities, as if they were chasing the people away. If they don't know how to face their problems (in this rhyme as 'fighting zombies') they will be 'consumed' by them (in this rhyme as being consumed literally). Leona is finally away from her comfort zone, where she was usually being served (the restaurant symbolize this) to being able to do things her own, even though she was shocked to see things that doesn't fit into her expectations (which also represent my idealism).

The 'scene' when she killed her own bestfriend represents my trust issues and insecurities. She ran away when her bestfriend attacked her (represents my dislike of confrontation) and killed her when she had almost killed Leona (this 'scene' represents me cutting off my social life). The killing 'scene' also represent my loss of innocence (in which I am oblivious to the bad things in life) because sometimes, justice must be done even though it will hurt the ones I love. Problems will attack us at times we don't expect, so we have to be always ready to face it.

Near the end of the rhyme, the scene where Leona wandered around the ghost town alone represents a struggle teenagers usually have to fit into a society. We're searching for our identity. Teenagers will feel lonely once they don't fit in, this is why Leona is strolling alone. Because I don't fit in -_-.

The "small cave" represents my home, I referred it as a cave because I feel more relaxed in isolation. The similar one is the part that explains her relationship with her friends (Which is implied to be few) that explains that Leona is an introvert, just like me.

The part about how Leona is always excited everytime she made a fire, is to explain my inability to cook. I have just learned how to cook (Which is actually just boiling instant noodles) recently, so I was totally inexperienced and retarded about cooking....

The last part about how Leona looks at her reflection and wanted to go home, is to explain my excessively reflective nature, and that I want to find somewhere I belong to. Because that sense of belonging gives me a feeling of being home.

So I think, that's all for now...

Selasa, 16 September 2014

Drama "Tragedi dan Ayah"

Yesterday, I had an idea to write a play script for the sake of remembering the times when I was still in the Theatre Club ( I miss those days, though). And my mind also wandered to this graphic novel version of Chicken soup for the soul I read when I was still in junior high school. So I got inspired and I wrote this. I tried my best, and it's also in indonesian. This is gonna be a very emo post, kind of like a shitty sinetron, so if you don't want me to ruin your day then don't read this post. "Enjoy"

               TRAGEDI DAN AYAH
                By Sarah Hawun R.

Kru panggung bersiap-siap menata panggung. Sofa, lampu berdiri, meja dan kursinya (3). Lalu ada penggantung baju terletak di tembok panggung. Ada double tape dan gunting diatas meja. Ayah masuk panggung , membawa kertas banyak dan bolpen, lalu duduk di kursi.

Lampu panggung menyala, menyorot seluruh panggung

Ana (anak-anak) masuk panggung membawa kertas yg ada gambarnya.

Ana : (Girang) Pa! pa! lihat deh aku bikin gambar!!

Ayah : (Tidak memerhatikan, tetap bekerja) hmmh

Ana : Nanti digantung ya pa?

Ayah : iya

Ana : disitu ya pa?

Ayah : (Nada membentak) iya! iya!

Ana takut, meletakkan gambarnya di meja, lalu berjalan keluar panggung

Ayah tempel gambar lain, pergi keluar panggung.

Ana masuk panggung lagi, kecewa lihatnya, ngambek , dia duduk di sofa.

Ibu masuk panggung.

Ibu : Assalamualaikum

Ana : (merengut) walaikum salam

Ibu : Sayang? ada apa kok wajahnya cemberut?

Ana : Papa itu! tukang bohong!! katanya mau gantung gambarku, ternyata malah gantung gambar lain!

Ibu : Oh itu...Mana coba gambarnya, sini mama liat.

Ana : Gak boleh. Gambarnya jelek. Papa aja gak mau gantung.

Ibu : Itu ya gambarnya? (Mengambil gambarnya dari atas meja makan) Masa begini jelek? bagus kok. Ini rumah nenek kan?

Ana : iya.

Ibu : Papa itu lagi repot, nanti kalau udah besar, kamu bakal kerja. Nah kerjaan ini yang bikin papa repot. Kan cari duit buat hidup kita.

Ana : Emangnya semua orangtua itu repot, ma?

Ibu : Gak juga. Mama enggak, nih. Pokoknya hal-hal yang jelek itu gak usah dipikirin. Gambar kamu bagus kok. Fokus ke yang baik aja. Gak usah ngambek lagi ya?

Ana : (mengangguk)

Ibu : Senyum dulu dong...

Ana : (senyum)

Ibu : Naah, gitu dong anak mama...

(Panggung gelap,ganti scene)

Ayah sudah di panggung duluan

Ana sudah remaja, ia masuk panggung, sambil senang

Ana : (Girang) Aaa! aku ditembak si dia pa! akhirnyaa!! udah lama kutunggu akhirnya kita jadian juga!!

Ayah : (Menulis di meja, tidak memerhatikan) Hmmh.

Ana : Masa lo pa, dia tadi pegang tanganku sambil bawa-bawa bunga! itu tuh romantis banget tahu pa!

Ayah : Iya

Ana : (Mendekat, menyentuh pundak Ayah) Pa... papa kok ga ngerespon sih?

Ayah : Papa lagi sibuk. Nanti aja.

Ana : (Pergi menjauh dari meja, duduk di sofa) huh.
Mesti gak dengerin.

(Panggung gelap, scene ganti)

Ana sudah dewasa, semua orang lagi di meja makan. Ana dan Ibu makan, sedangkan Ayah baca koran.

Ana : Padahal tadi hampir salah satu lo, ma. Aku hampir salah hitung. Tapi untung aku inget ajarannya pak Khoir.

Ibu : Gak apa, kan yang penting udah lolos. Mau lanjut kemana nih jadinya?

Ana : Oh, aku belum kasih tahu ya? aku daftar jadi pramugari

Ayah : (berhenti membalik-balik koran)

Ibu : Pramugari? enak dong kita nanti naik pesawat gratis, hahahaha

Ana : Iya tapi aku harus dilatih dulu ma, minggu depan ada camp buat pelatihan keadaan darurat.

Ibu : Wah keren dong sekaligus jadi perawat juga.

Ana : Iya sih, tapi cuma dasar-dasarnya aja.

Ayah berdiri dari kursinya, dan keluar panggung. Ibu dan Ana menatap Ayah.

Lampu gelap, ganti scene

Ana : Hari pertama nih, Ana berangkat dulu ya ma!

Ibu : Iya, hati-hati!

Ayah lari masuk panggung sambil bawa surat.

Ayah : Ana! Tunggu!

Ana : Oh iya, aku belum pamit papa. (salim)

Ayah : Ini (kasih suratnya)

Ana : (Menatap suratnya , lalu melanjutkan perpisahan) yahudah deh dadah semuaa!

Ibu : Dadaah (melambai)

Ayah : (Melambai)

Lampu gelap, scene ganti, scene terakhir

Sudah berbulan-bulan Ana tidak di rumah karena kontrak kerjanya 6 bulan. Ibu dan Ayah sudah di panggung sebelum lampu dinyalakan. Ayah di meja makan, mengurusi kertas dan dokumen untuk pekerjaannya, tetapi terlihat khawatir. Ibu membaca koran di ruang tamu. Wanita masuk panggung. Terdengar suara ketukan pintu.

(Efek suara ketukan pintu)

Ibu : Ya? Siapa itu? (buka pintu)

Wanita : Permisi, apa ini rumah orangtua Ana?

Ibu : Ya betul. Silakan masuk.

(Mereka dan Ayah duduk di ruang tamu)

Ayah : Ada apa ya?

Wanita : Saya teman dekatnya. Waktu tugas dia pesan sama saya, katanya saya disuruh nyampaikan ini.

Ibu : nyampaikan apa?

Wanita : Kalo dia minta maaf ke ayahnya, dan terima kasih ke ibunya.

Ibu : Kembali kasih. Terus dia kabarnya gimana sekarang?

Hening sejenak

Wanita : Anu bu, waktu penerbangannya saya gak ikut jadi kru, tapi di kantongnya saya ketemu ini (memperlihatkan sepucuk surat)

Ayah : Kenapa kamu gopoh kantongnya?

Hening sejenak

Wanita : Maaf, saya waktu itu gak ikut pak, jadi saya gak tahu kenapa. Pesawatnya...
jatuh pak.

Ayah : (Khawatir) Terus anakku gimana? Ana gimana??!!

Wanita : Maaf pak. Yang selamat
Gak ada.

Ayah menatap tak percaya, Ibu sadar, menutup mulutnya.

Semua menangis, Ayah histeris

Pelan pelan lampu meredup ditemani narasi : (Suara Ayah)
Ana, Maaf papa cuma bisa nulis surat ini ke kamu. Maaf papa gak pernah gantung gambarmu di tembok. Maaf papa gak pernah dengerin kamu curhat. Maaf papa selalu sibuk. Maaf papa gak bisa menuhin permintaanmu. Papa bangga kamu jadi pramugari, tapi sebelum kamu pergi papa cuma minta satu hal. Tolong pulang dengan selamat. Maafin papa ya.

Selasa, 09 September 2014

Koma

Tak fakta, abaikan saja
Tak logika, musnahkan saja
Dasar tak berguna
Seni untuk apa?

Kita bukan orang jawa
Kita tak pelit harta
Kau tak butuh ayah
Memangnya kau tahu apa?

Sedikit salah
Dibalas amarah
Menunggu badai reda
"Mama dimana?"

Emas belum digali
Angan setinggi matahari
Aksara tak mengerti
"Begitu saja emosi"
"Tak bisakah menahan diri?"

"Kok bertengkar,lagi?"
Kapan berhenti?
"Mama dimana?"
Masuk sana!

"Dasar anak kecil"
"Tak bakal ia berhasil"

Kau datang, polosnya muka
Penuh dengan api manusia
Antar keluarga dan orangtua
"Kalau begitu, cerai saja!"
"Kau di pihak mana?"

Lama-lama hilang sendiri
Saat semua sudah cukup
Mencoba untuk berdiri
Tapi jatuh terkelungkup
Dan terlambat menyadari
Bahwa aku hanya ingin hidup
Di dunia yang mati

Rabu, 03 September 2014

Evolution of Leona Clarke

1.


Chilling before the storm

2.

Birthday Party

3.

Beginning

4.
Javier

5.
Babysitting

6.

"Men...."

Selasa, 02 September 2014

Ilmuwan Part 2

Akulah ilmuwan
Aku punya banyak pertanyaan
Aku tak kenal Tuhan
Itu semua hanya khayalan

Akulah ilmuwan dunia
Aku harus tahu "mengapa"
Jika jawabannya tak ada
Aku akan mengganggu mereka

Aku tak peduli bajuku
Apalagi rontoknya rambutku
Kepalaku seterang matahari
Karena adanya hukum dispersi

Semua hal harus fakta
Yang bisa dipegang, didengus, dirasa
Dan dilihat mata
Maka itu ada

Kebetulan itu tak pernah ada
Semua ada alasannya
Bahkan warna tumbuhan Rosacea
Ada karena hasil reaksi kimia

Manusia dan alam semesta
Ada dengan sendirinya
Kita adalah kera
Banggalah, para mamalia

Semua hal kuukur teliti
Matematika itu gampang sekali
Kalian bodoh sekali
Begini saja tidak mengerti

Akulah ilmuwan sejati
Aku hanya menulis puisi
Untuk nilai saya semata
Karena tujuan saya ada

Seniman Part 2

Akulah seniman
Bakatku bermain peran
Latihanku berteriak di halaman
Tak peduli orang menatap heran

Puisiku menggebu-gebu
Aku tak keramas dua minggu
Tak peduli lusuhnya baju
Lihatlah kilau rambutku

Akulah seniman termahsyur
Makananku hanya sayur
Kuat mentalku harus diatur
Jadi kutidur dalam lumpur

Ku hina orang demi peranku
Kubiarkan orang menggangguku
Agar kuatkan mentalku
Ku goda wanita demi egoku
Tak perlu peduli moralku

Politik itu omongan basi
Aku suka berargumentasi
Dan demi ideku, aku berdemonstrasi
Walau akhirnya menjadi anarki

Aku percaya semua
Hal di dunia ini indah
Bunga itu indah
Meja itu indah
Kloset itu indah
Mayat itu indah
Anak-anak bermain itu indah
Orang gila itu indah
Tameng kepala suku itu indah
Permen itu indah
Tahu itupun indah

Dengarlah, hai kawan
Semua ini hanya lawakan
Dan lagi, tak berlaku semua insan
Tak perlu dianggap demikian