Selasa, 16 September 2014

Drama "Tragedi dan Ayah"

Yesterday, I had an idea to write a play script for the sake of remembering the times when I was still in the Theatre Club ( I miss those days, though). And my mind also wandered to this graphic novel version of Chicken soup for the soul I read when I was still in junior high school. So I got inspired and I wrote this. I tried my best, and it's also in indonesian. This is gonna be a very emo post, kind of like a shitty sinetron, so if you don't want me to ruin your day then don't read this post. "Enjoy"

               TRAGEDI DAN AYAH
                By Sarah Hawun R.

Kru panggung bersiap-siap menata panggung. Sofa, lampu berdiri, meja dan kursinya (3). Lalu ada penggantung baju terletak di tembok panggung. Ada double tape dan gunting diatas meja. Ayah masuk panggung , membawa kertas banyak dan bolpen, lalu duduk di kursi.

Lampu panggung menyala, menyorot seluruh panggung

Ana (anak-anak) masuk panggung membawa kertas yg ada gambarnya.

Ana : (Girang) Pa! pa! lihat deh aku bikin gambar!!

Ayah : (Tidak memerhatikan, tetap bekerja) hmmh

Ana : Nanti digantung ya pa?

Ayah : iya

Ana : disitu ya pa?

Ayah : (Nada membentak) iya! iya!

Ana takut, meletakkan gambarnya di meja, lalu berjalan keluar panggung

Ayah tempel gambar lain, pergi keluar panggung.

Ana masuk panggung lagi, kecewa lihatnya, ngambek , dia duduk di sofa.

Ibu masuk panggung.

Ibu : Assalamualaikum

Ana : (merengut) walaikum salam

Ibu : Sayang? ada apa kok wajahnya cemberut?

Ana : Papa itu! tukang bohong!! katanya mau gantung gambarku, ternyata malah gantung gambar lain!

Ibu : Oh itu...Mana coba gambarnya, sini mama liat.

Ana : Gak boleh. Gambarnya jelek. Papa aja gak mau gantung.

Ibu : Itu ya gambarnya? (Mengambil gambarnya dari atas meja makan) Masa begini jelek? bagus kok. Ini rumah nenek kan?

Ana : iya.

Ibu : Papa itu lagi repot, nanti kalau udah besar, kamu bakal kerja. Nah kerjaan ini yang bikin papa repot. Kan cari duit buat hidup kita.

Ana : Emangnya semua orangtua itu repot, ma?

Ibu : Gak juga. Mama enggak, nih. Pokoknya hal-hal yang jelek itu gak usah dipikirin. Gambar kamu bagus kok. Fokus ke yang baik aja. Gak usah ngambek lagi ya?

Ana : (mengangguk)

Ibu : Senyum dulu dong...

Ana : (senyum)

Ibu : Naah, gitu dong anak mama...

(Panggung gelap,ganti scene)

Ayah sudah di panggung duluan

Ana sudah remaja, ia masuk panggung, sambil senang

Ana : (Girang) Aaa! aku ditembak si dia pa! akhirnyaa!! udah lama kutunggu akhirnya kita jadian juga!!

Ayah : (Menulis di meja, tidak memerhatikan) Hmmh.

Ana : Masa lo pa, dia tadi pegang tanganku sambil bawa-bawa bunga! itu tuh romantis banget tahu pa!

Ayah : Iya

Ana : (Mendekat, menyentuh pundak Ayah) Pa... papa kok ga ngerespon sih?

Ayah : Papa lagi sibuk. Nanti aja.

Ana : (Pergi menjauh dari meja, duduk di sofa) huh.
Mesti gak dengerin.

(Panggung gelap, scene ganti)

Ana sudah dewasa, semua orang lagi di meja makan. Ana dan Ibu makan, sedangkan Ayah baca koran.

Ana : Padahal tadi hampir salah satu lo, ma. Aku hampir salah hitung. Tapi untung aku inget ajarannya pak Khoir.

Ibu : Gak apa, kan yang penting udah lolos. Mau lanjut kemana nih jadinya?

Ana : Oh, aku belum kasih tahu ya? aku daftar jadi pramugari

Ayah : (berhenti membalik-balik koran)

Ibu : Pramugari? enak dong kita nanti naik pesawat gratis, hahahaha

Ana : Iya tapi aku harus dilatih dulu ma, minggu depan ada camp buat pelatihan keadaan darurat.

Ibu : Wah keren dong sekaligus jadi perawat juga.

Ana : Iya sih, tapi cuma dasar-dasarnya aja.

Ayah berdiri dari kursinya, dan keluar panggung. Ibu dan Ana menatap Ayah.

Lampu gelap, ganti scene

Ana : Hari pertama nih, Ana berangkat dulu ya ma!

Ibu : Iya, hati-hati!

Ayah lari masuk panggung sambil bawa surat.

Ayah : Ana! Tunggu!

Ana : Oh iya, aku belum pamit papa. (salim)

Ayah : Ini (kasih suratnya)

Ana : (Menatap suratnya , lalu melanjutkan perpisahan) yahudah deh dadah semuaa!

Ibu : Dadaah (melambai)

Ayah : (Melambai)

Lampu gelap, scene ganti, scene terakhir

Sudah berbulan-bulan Ana tidak di rumah karena kontrak kerjanya 6 bulan. Ibu dan Ayah sudah di panggung sebelum lampu dinyalakan. Ayah di meja makan, mengurusi kertas dan dokumen untuk pekerjaannya, tetapi terlihat khawatir. Ibu membaca koran di ruang tamu. Wanita masuk panggung. Terdengar suara ketukan pintu.

(Efek suara ketukan pintu)

Ibu : Ya? Siapa itu? (buka pintu)

Wanita : Permisi, apa ini rumah orangtua Ana?

Ibu : Ya betul. Silakan masuk.

(Mereka dan Ayah duduk di ruang tamu)

Ayah : Ada apa ya?

Wanita : Saya teman dekatnya. Waktu tugas dia pesan sama saya, katanya saya disuruh nyampaikan ini.

Ibu : nyampaikan apa?

Wanita : Kalo dia minta maaf ke ayahnya, dan terima kasih ke ibunya.

Ibu : Kembali kasih. Terus dia kabarnya gimana sekarang?

Hening sejenak

Wanita : Anu bu, waktu penerbangannya saya gak ikut jadi kru, tapi di kantongnya saya ketemu ini (memperlihatkan sepucuk surat)

Ayah : Kenapa kamu gopoh kantongnya?

Hening sejenak

Wanita : Maaf, saya waktu itu gak ikut pak, jadi saya gak tahu kenapa. Pesawatnya...
jatuh pak.

Ayah : (Khawatir) Terus anakku gimana? Ana gimana??!!

Wanita : Maaf pak. Yang selamat
Gak ada.

Ayah menatap tak percaya, Ibu sadar, menutup mulutnya.

Semua menangis, Ayah histeris

Pelan pelan lampu meredup ditemani narasi : (Suara Ayah)
Ana, Maaf papa cuma bisa nulis surat ini ke kamu. Maaf papa gak pernah gantung gambarmu di tembok. Maaf papa gak pernah dengerin kamu curhat. Maaf papa selalu sibuk. Maaf papa gak bisa menuhin permintaanmu. Papa bangga kamu jadi pramugari, tapi sebelum kamu pergi papa cuma minta satu hal. Tolong pulang dengan selamat. Maafin papa ya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar