Senin, 23 Februari 2015

Crazy

A poem about my frustration of fulfilling my own ideals while being skeptical because of reality.

Crazy

"Nothing is truly mine"

One owns nobody
Bliss will never last
One can cry a plea
Soon it becomes a past

I'm incapable of
Caring, loving, missing
Kissing, hugging or fucking
Haha! I don't feel it

Truly,
My ideas are killing me
My conscience lectures me
But why? Why should I listen?
I'm not gonna make it, anyway,

Hahaha!!

I'm numb
I'm dumb
For punishing self
But I'm clever
For continuing to

Why should I believe it?
Hahahaha!!!

Damn it,
I'm flawed!
Hopes, atrociously broken
And dreams be slain
Why should I think of that?

Hahahahahahahahaa!!!

Despite of those, it's perfect
Because I'm alone


And I'm grateful for that.

Minggu, 22 Februari 2015

Drama "Aktor?"

A play I wrote intended for my dark sense of humour. About crimes and psychosis. Basically made to criticize 'overly-dramatic people'...

Copyright Hawun Harati

"Aktor?"
Drama dimulai di meja makan. Ibu sudah di panggung, menata meja

Ibu : Rino! Gina! Ayo makan!

(Terdengar langkah kaki)

(Ayah masuk panggung, sehabis kerja)

Ayah : (menggoda Ibu) Hai cantik, malam ini makan apa? (Menaruh tasnya)

Ibu : (terkekeh, menggeleng-geleng melihat suaminya)

(Ayah memeluk Ibu, lalu melepaskannya)

(Rino berlari masuk panggung)

Rino : Ayaaah!!! (memeluk ayah)

Ayah : Hai, Rino. (mengelus kepalanya) Ayo duduk sana

(Rino melompati karpet, lalu duduk di kursi)

(Gina masuk panggung, tanpa ngomong apa-apa. Lalu, langsung duduk di kursi)

Ibu : Kamu kok ga nyambut Ayah, Gina?

Gina : (Muka datar, seperti terpaksa tersenyum) Oh, iya. Hai Ayah. Aku senang lihat Ayah pulang.

Ayah : Hai Gina, Ayah juga senang lihat kamu.

(Mereka makan sambil berbincang-bincang)

Rino : (meniup nasi lewat sedotan ke Gina)

Gina : (kaget, lalu maklum)...Rino

Ayah : Rino...ayo jangan gitu sama kakakmu.

Rino : (tertawa)

Gina : Gak apa kok, yah. Aku udah biasa hidup sama orang gila. (Kepalanya menoleh ke Rino)

Rino : Enak aja!

Gina : (tertawa)

Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.

(Efek suara ketukan pintu)

Ibu : Yaa...sebentar...(berdiri dari kursi dan membukakan pintu)

Polisi : Permisi, Saya Heru Susanto, dari kantor polisi. Apakah ini rumah Lia Dewi?

Ibu : Iya, ini saya sendiri. Ada apa ya kok banyak polisi? (melihat banyak polisi diluar)

Polisi : Begini bu, kami sedang menginvestigasi sebuah pembunuhan.

Ibu : Iyakah? Siapa yang dibunuh?

Polisi : Biarkan saya masuk, nanti saya ceritakan secara rinci.

Ibu : Kalau begitu mari, silakan....

Ibu mempersilahkan Polisi masuk. Lalu Polisi duduk di sofa.

Sadar akan adanya polisi, Ayah berdiri dari meja makan lalu duduk di sofa bersama Ibu dan Polisi.
Sementara Rino bermain dengan makanannya, dan Gina melihat-lihat Polisi.

Polisi : Begini, bu. Kami ada berita duka. Kakak anda, Fia Lidya ditemukan tewas di sebelah kantor polisi kami. Ia telah dibunuh, dan kami kemari untuk menyelidiki kasus ini.

Ibu : (Terkejut, tidak percaya) Fia? gak mungkin kan? kemarin aku baru ketemu dia.

Ayah : (Terkejut, memegang tangan Ibu)

Polisi : Saya turut prihatin, bu.

Ibu : (Menangis) Gak mungkin, kan? gak mungkin....

Ayah : (memeluk, menenangkan ibu.)

Gina : (Menunduk, memegang kepalanya, sedih)

Rino : (Senyumnya hilang) Tante Fia....?

Polisi : Saya disini ingin mengecek alibi kalian.

Ibu : (dramatis) Dasar gak sensitif! Kita lagi sedih, malah tanya-tanya!!!

Ayah : Mungkin, lain waktu, pak Heru? Istri saya lagi emosional.

Polisi : Ya, kalau begitu lain kali saja. Saya permisi dulu (berdiri), maaf sudah merusak malam kalian.

Ibu : Maaf! maaf! dasar gak tahu diri!

Ayah : (menenangkan Ibu) sshhh, dek, gak apa....kita yang sabar aja....

Polisi : Kalau ada apa-apa, ini alamat sama nomor telepon saya. (mengeluarkan secarik kertas)

Gina : (Tiba-tiba, beranjak dari kursi makan, lalu berlari menuju polisi) Makasiih pak! (merebut kertas dari tangan Polisi)

Gina menjabat tangan Polisi erat-erat dengan tersenyum.

Ayah : Ah, ini anak saya yang pertama.

Polisi : Hai, nak. Namamu siapa?

Gina : Gina

Polisi : Hai Gina. Pak polisi pulang dulu ya.

Gina : Dadah pak polisi!

Polisi keluar panggung.

Gina kembali ke meja makan.

Rino : Siapa sih orang jahat yang bunuh tante Fia? Jahat banget sih dia!

Gina : No, aku ada dugaan. Aku cuma butuh mastiin. Jadi-....(bisik-bisik ke Rino)

Rino : (kaget) Serius, kak?

Gina : Iya, semoga orang tua kita setuju.

Lampu gelap. Ganti scene.

Semua, kecuali Polisi, duduk di meja makan.

Ibu : (masih menangis, memegang pisau)

Ayah : Sudah, dek...yang sabar....

Ibu : (Marah) Gimana bisa sabar?!! Emang enak kamu ngomong aja? Dia tumbuh sama aku, kak!!!
Aku sumpahin mati tuh yang bunuh!

Gina : Jangan gitu, bu.

Rino : (sarkastik) Kalau sumpahin mati kan sama kaya membunuh. Berarti Ibu jadi sama dong?

Ibu : (Menatap Rino agak lama) Kau (berdiri dari kursi) anak (mengambil pisau) Kurang ajar!!!

Rino : (mencoba kabur, terjatuh dari kursi)

Ayah : (panik) Bu, jangan! itu anak kita! taruh pisaunya!

Ibu : (Menampar Rino) Jaga mulutmu itu!!! (bersiap menusuk)

Ayah : (bersamaan dengan Gina, teriak) Lia!! Jangan!!!

Gina : (berteriak, beranjak dari kursi) Bu!!! jangan!!!!

Ibu menusuk Rino dengan pisau. Rino jatuh ke lantai dan mati.

Gina : (terkejut, menutup mulutnya, sambil menatap ngeri)

Ayah : (menghentikan Ibu yang mau menusuk Rino lagi)

Ibu : Lepas!!!

Ayah : Kau gila??? Kamu baru bunuh anak kita!!!

Ibu : (baru sadar) Rino? Rino? sadar, nak!

Ayah : Tak bisa bu. Ia sudah meninggal.

Ibu : (Menampar Ayah) Ini gara-gara kamu!!!!

Ayah : La? kok saya disalahin?

Ibu : (marah) Ah! Aku gak peduli! Kalau kamu disini, kenapa kamu biarin aku bunuh Rino?!!

Gina : (menutup kuping, stres) berhenti...berhenti kalian....

Ibu : Aku gak mau tahu!

Ibu keluar panggung.

Ayah : (sedih, melihat Rino) Rino.....

Gina : (sambil gemetar karena shock, menelpon) Halo? Pak Heru? Ibu saya membunuh adik saya....

panggung gelap.
Yang ada cuma Ayah dan Gina.

Ayah : Ya Tuhan....Berikan aku kesabaran...

Gina : (Diam, tapi sedih)

Polisi memborgol Ibu, masuk panggung

Ibu : Lepasin!!! Mereka yang buat aku jadi pembunuh!!!

Polisi : Tenang, bu Lia, kami akan bawa anda ke Menur.

Ibu : Lepas!!! Kau kira aku gak tau?! Setidaknya biarkan aku pamit dengan keluargaku!!!

Polisi : Baiklah. Saya beri 15 menit.

Polisi keluar panggung. Ibu duduk di sofa.

Ibu : Gina, maaf ya nak.

Ayah : Ya Tuhan, aku gak tahan lagi...(ambil pistol dari jaketnya lalu menodongkan ke Ibu)

Gina : Tunggu!! Ayah ngapain?!!

Ayah menembak Ibu, dan Ibu mati.

Gina : (menatap ngeri)

Ayah duduk di kursi makan, menutup wajahnya.

Gina : (Sedih, tetapi tiba tiba langsung tersenyum)

Gina berjalan ke meja makan, mengambil serbet, lalu berjalan di sekitar Ayah.

Gina : Kerja bagus, yah. Aku gak perlu khawatir tentang Ibu lagi (Tiba-tiba mencekik Ayah dengan serbet)

Ayah : (Tercekik, sambil berusaha melepaskan diri, tetapi Gina malah memperkuat cekikannya)

Ayah akhirnya mati. Gina mengecek nadinya di lehernya. Gina mengambil pistolnya lalu menaruh di dalam jaketnya. Gina lalu menyingkirkan tubuh mereka ke dalam taplak meja makan, sambil pura-pura berteriak.

Polisi : Bu Lia? Ada apa di dalam?

Gina : (Menggedor-gedor pintu) Pak Heru!!! Pak Heru!!! Tolong pak!!!

Polisi : Gina? Ada apa?

Gina : Pak! pak, tolong pak, saya diserang!

Polisi masuk ke dalam rumah dan Gina mengunci pintu. Mereka berdua duduk di sofa

Polisi : Ada apa? Siapa yang nyerang kamu?

Gina : (Panik, takut) Ibu saya bunuh Ayah, terus dia bunuh diri...(pura-pura menangis) Pembunuhnya, pak! aku tahu siapa yang  bunuh Tante Fia, adik saya dan orangtua saya! (memegang dada, mencoba mengatur nafas)

Polisi : Siapa pembunuhnya? Ibumu kan?

Gina : (Menarik pistol dari dalam jaketnya, lalu menodong pak Heru)

Suasana menjadi tegang, Pak Heru terkejut.

Polisi : Gina?

Gina : (memerintah sambil mengarahkan pistol) Berdiri.

Polisi : Gina, caranya gak bisa gini, kan-

Gina : Berdiri!!!

Polisi : (Berdiri dari sofa)

Gina : (Berdiri dari sofa dan menemukan senjata di jaket Polisi, lalu membuangnya) Kayaknya bapak tahu terlalu banyak, ya?

Polisi : Gina, kamu yang bunuh bu Fia? Kamu yang bunuh keluargamu?

Gina : (tertawa) Bapak kan polisi. Masa gak sadar sih? Gak mungkin dong satu keluarga bunuh-bunuhan kalau awalnya gak direncanakan.

Polisi : Kamu? Kamu yang menaruh mayat tantemu sendiri di sebelah kantor polisi? untuk nuduh saya?

Gina : (sinis, nada mengejek) ya, ya, aku yang naruh. Aku yang ngikutin tante Fia ke kantor polisi malam-malam buat ketemu kamu. Ya, aku gak tahu kalau kalian pacaran, jadi aku "secara sembarangan" bunuh tanteku, kemungkinan sih karena aku cemburu, tapi karena aku ceroboh, aku gak sempat ganti sepatu setiap kali pulang ke rumah dan lupa kalau ternyata darah tanteku masih ada di sepatuku selama ini. Apalagi kalau temanku bilang alibiku gak sempurna karena waktu itu aku lagi gak giliran jaga di *kantor polisi* (menodong pistol ke sepatu pak Heru) Iya, kan, pak Heru?

Polisi : (Terdiam, lalu tertawa sambil menepuk tangan) Bagus sekali, nak...bagus sekali. Ternyata kau sengaja membunuh untuk membawaku kesini? Ah, nak, Tantemu itu nyawanya murah, bisa saja mati tanpa ada yang kangen. Tapi kok aneh ya? Padahal temanku kusuap biar gak ngomong. Besok aku harus bunuh dia juga.

Gina : Oh, gak bakal kubiarin pak, tenang aja.

Polisi : Iya kah? ( Polisi menyerang Gina dan mendapatkan pistolnya)

Gina : (Berlari mendekati taplak meja)

Polisi : (menodong) eh eh eh....jangan nakal...Angkat tangan.

Gina : (Mengetuk meja makan)

Polisi : Kamu ngapain?

Tiba-Tiba Ayah dan Ibu keluar dari bawah meja dan menyerang Pak Heru. Pistolnya lepas.

Ayah : Gina! Ambil!

Gina mengambil pistol, lalu menodongkannya ke Polisi.

Gina : Pak Heru Susanto, anda ditangkap atas tuduhan pembunuhan tingkat satu. Anda akan dieksekusi atau menjalani hukuman pidana seumur hidup.

Ibu memukul Polisi.

Ibu : Itu untuk kakakku!!!

Lampu gelap.

Ganti Scene

Di meja makan, panggung, ada Ayah, Ibu dan Gina.

Ayah : Gak nyangka ya, kita bisa akting kaya gitu. Hebat kamu, Gin, kemarin penyelidikan bilang pak Heru memang pembunuhnya.

Gina : Iya, maaf ya aku nyuruh kalian kaya gitu.

Ibu : Gak apa, lagian ga semua aktingku palsu, kok....

Gina : Oh, iya. Rino dimana?

Ibu : Oh, entahlah...mungkin pisau yang kupakai betulan. (tertawa)

Gina terdiam. Menyadari kalau Ibunya terlalu menghayati dan Rino benar-benar meninggal.
Gina merasa bersalah telah membuat ibunya menjadi pembunuh betulan, lalu mengambil pistol asli yang disimpannya dan menembak dirinya sendiri di kepala.

Ayah : Astaga? Gina!!!!

Ibu : Ginaaaaaa!!!!!!

Selesai.

Senin, 16 Februari 2015

nononononono                                             nononononon
nononononononononono                             nononononon
nononononononononono                             nononononon
nononononononononono                             nononononon
nononononono        nononono                     nononononon
nononononono        nononono                     nononononon
nononononono        nononono                     nononononon
nononononono        nononono                     nononononon
nononononono                 nononono            nononononon
nononononono                 nononono            nononononon
nononononono                 nononono            nononononon
nononononono                  nononono           nononononon
nononononono                         nononono    nononononon
nononononono                         nononono    nononononon
nononononono                         nononono    nononononon
nononononono                         nonononononononononon


nonononooononononononononononononononononononno
nononononononononononononononononononononononon
nonononononononononnononononononononononononono
nononononono                                            nononononoono
nononononono                                            nonononononon
nononononono                                            nononononoono
nononononono                                            nononononoono
nonoonononono                                          nononononoono
nonononononno                                          nononononoono
nonononononono                                        nononononoono
nonononononn                                           nononononoono
nonononononnoo                                       nononononoono
nooonoononon                                           nononononoono
noononononon                                           nononononoono
nonoonoononon                                         nononononoono
nonononononon                                         nononononoono  noonononononoo                                       nonononononon           nononononoono                                         nononononoono
nononononononononononononononononononononononon
nonononononononononnononononononononnonononnono
nonononononononononononoononononononononononono

                                   nonononononono
                                   nonononononono
                                   nonononononono
                                   nonononononono
                                   nonononononono
                                   nonononononono
                                   nonononononono
                                   nonononononono
                                   nonononononono
                                   nonononononono
                                   nonononononono
                                   nonononononono
                                   nonononononono
                                   nonononononono
                                   nonononononono
                                   nonononononono

                                   nonononononono
                                   nonononononono
                                   nonononononono
                                   nonononononono
                                   nonononononono


Much as I say
Yet no ear would hear
And meaningless is this now

Minggu, 15 Februari 2015

Behind the name of my blog

What is this? Who the hell came up with such a corny name as "The Lady of the moon"? What happened to the picture of running girl?

Okay, okay, first of all, I strongly believe that I'm not a 'lady', but I know that it is a politer way to say 'woman', in which I am. And the reason I chose the word moon is really simple.

Because I love moon. It's awesome.

It shines brightly when the sky is dark, outshining stars from its size. Even though it has holes on its surface, it still shines. Yet, what I most like from the moon is that, it is not shining everyday; like the sun does; and only shines the brightest if it's full, which only occurs once a month. It needs to go through days-long process to actually looks perfectly beautiful (not rushed overnight like the sun) and need another days to look imperfect (like, during an eclipse). Such a perfect craft of God, He must've put a lot of effort to it. It's like showing that the most beautiful thing comes with hell lots of struggle, and will not be taken away easily, and I believe that.

It's also because I wrote two poems that have something to do with moon (especially, the indonesian one, I kept thinking about that before adding the word 'moon' to my blog) and poems are my works that dominate my blog.

So, yeah, those are pretty much the reasons why I chose to make an alias of "The Lady of the Moon"

Nat King Cole - Autumn Leaves

This is such a legendary song for my family. My grandpa used to sing this song when he was still living in Netherland everytime he missed his homeland. Then, my grandpa taught this to my mom, and according to my dad's story, she once sang this after they had a fight to calm herself down. Maybe that was why she liked singing this song when we were at the karaoke. When I hadn't known what this song meant to my family, I thought it was just a boring, old people song, but it strangely attracted my attention and I was unconsciously drawn to this song. Now, I always think about this song whenever I feel sad or feeling like remembering my mom. I'm also planning to make this song a 'soundtrack' for my upcoming story. Thank you, Nat King Cole, for coming up with such a song and for making my lonely days beautiful.

Autumn Leaves
By Nat King Cole

The falling leaves
Drift by the window
The autumn leaves
Of red and gold

I see your lips
The summer kisses
The sunburned hands
I used to hold

Since you went away
The days grow long
And soon I'll hear
Old winter song
But I miss you most of all
My darling
When autumn leaves
Start to fall

Since you went away
The days grow long
And soon I'll hear
Old winter song

But I miss you most of all
My darling
When autumn leaves
Start to fall



My hair

 
I was wearing my hair in french pigtail braids for a whole day, and then these are the results. I love the result! It is my favourite method of overnight curling technique and the curls stayed for half a day. Here are the pictures of my result.
 







That a strand of straight hair, though.... -_-


Senin, 02 Februari 2015

Hasil tes MBTI lucu

Hasil tes psikologi mbti lucu
ENFJ : Yang suka paranoid sama orang
INFJ : Yang Indigo
INFP : Yang diam-diam menghanyutkan
ENFP : Yang kekanak-kanakan
INTP : Si ilmuwan gila
INTJ : Yang punya rencana untuk menguasai dunia
ENTJ : Maling rakyat
ENTP : Kurang ajar tapi pintar
ESTP : Yang suka seenaknya
ESFP : Yang ga ingat saldo tinggal berapa
ISFP : D'massiv
ISTP : Tukang debus
ISTJ : Yang terlalu rapi
ESTJ : Hakim kolot
ESFJ : Ibu-ibu
ISFJ : Guru TK

Funny MBTI test result

Funny MBTI Type result
ENFJ : The annoying teacher type
INFJ : The complicated cospirator
INFP : The everlasting weed smoker
ENFP : The immature Ghandi
INTP : The real life mad scientist
INTJ : The creepy smartypants
ENTJ : The aggressive little people's thief
ENTP : The procedure ignorer
ESTP : The loud salesman
ESFP : The reckless party animal
ISFP : The emo artist
ISTP : The hands-on trouble seeker
ISTJ : The overly serious worker
ESTJ : The law extremist
ESFJ : The dutiful mother

Putus

Cintaku yang hilang
Dimana kau? Terbunuh angan?
Rinduku padamu,
Saat kau terbang ke awan

Sekian tahun sepi rasanya
Dua valentin tanpamu
Aku rindu, cahaya wajahmu
Dari kau memelukku,
Dari kau bicara padaku
Caramu makan dan canda-tawamu
Kenapa kau meninggalkanku?

Kukira semua hal
Baik saja

Kasihku, heranku, kau tak berhenti
Tak menoleh, tak berpamitan
Daun sobek yang kau beri
Tak bisa menerima kenyataan

Kita           tak
bersama
lagi
Tak kan pernah
Menyatu kembali

"Aku sendiri, selalu"
Ide mengikis saat kau pergi
Kenapa harus terikat emosi?
Terikat kasih, dibelenggu sayang
Tapi tak akan abadi?

Jadi, saya merantau
Tak peduli ajakan kawan
Tidak mendekati teman
Karena bisa memiliki
Berarti bisa merelakan

Apa Tuhan menghukum saya?
Karena saya tak bisa
Ikhlas dan tidak merasa
Selalu teringat waktu
Yang sudah lenyap

Tapi kita
sudah         p
                                  utus
hubungan

Tak kira seorang lelaki tak akan bisa
Tak kira seorang kawan tak bisa
Menolak bahwa aku sendiri
Dan mencoba mandiri

Lelaki lain tak bisa
Mengganti sosokmu
Perempuan lain tak bisa
Menenangkan hatiku

Karena daunku
Sudah kering dilewat tahun
Dan tak akan pernah bisa
Menyatu dengan punyamu
lagi

Karena mustahil
kau kembali

Cintaku sudah terbang tinggi
Pergi dari hidupku
Hilang dari duniaku

Untung kau menjadi kekasihNya
Yang Maha Kuasa
di surgaNya

Cintaku
Bundaku

Surabaya, 2 Februari 2015