Minggu, 22 Februari 2015

Drama "Aktor?"

A play I wrote intended for my dark sense of humour. About crimes and psychosis. Basically made to criticize 'overly-dramatic people'...

Copyright Hawun Harati

"Aktor?"
Drama dimulai di meja makan. Ibu sudah di panggung, menata meja

Ibu : Rino! Gina! Ayo makan!

(Terdengar langkah kaki)

(Ayah masuk panggung, sehabis kerja)

Ayah : (menggoda Ibu) Hai cantik, malam ini makan apa? (Menaruh tasnya)

Ibu : (terkekeh, menggeleng-geleng melihat suaminya)

(Ayah memeluk Ibu, lalu melepaskannya)

(Rino berlari masuk panggung)

Rino : Ayaaah!!! (memeluk ayah)

Ayah : Hai, Rino. (mengelus kepalanya) Ayo duduk sana

(Rino melompati karpet, lalu duduk di kursi)

(Gina masuk panggung, tanpa ngomong apa-apa. Lalu, langsung duduk di kursi)

Ibu : Kamu kok ga nyambut Ayah, Gina?

Gina : (Muka datar, seperti terpaksa tersenyum) Oh, iya. Hai Ayah. Aku senang lihat Ayah pulang.

Ayah : Hai Gina, Ayah juga senang lihat kamu.

(Mereka makan sambil berbincang-bincang)

Rino : (meniup nasi lewat sedotan ke Gina)

Gina : (kaget, lalu maklum)...Rino

Ayah : Rino...ayo jangan gitu sama kakakmu.

Rino : (tertawa)

Gina : Gak apa kok, yah. Aku udah biasa hidup sama orang gila. (Kepalanya menoleh ke Rino)

Rino : Enak aja!

Gina : (tertawa)

Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.

(Efek suara ketukan pintu)

Ibu : Yaa...sebentar...(berdiri dari kursi dan membukakan pintu)

Polisi : Permisi, Saya Heru Susanto, dari kantor polisi. Apakah ini rumah Lia Dewi?

Ibu : Iya, ini saya sendiri. Ada apa ya kok banyak polisi? (melihat banyak polisi diluar)

Polisi : Begini bu, kami sedang menginvestigasi sebuah pembunuhan.

Ibu : Iyakah? Siapa yang dibunuh?

Polisi : Biarkan saya masuk, nanti saya ceritakan secara rinci.

Ibu : Kalau begitu mari, silakan....

Ibu mempersilahkan Polisi masuk. Lalu Polisi duduk di sofa.

Sadar akan adanya polisi, Ayah berdiri dari meja makan lalu duduk di sofa bersama Ibu dan Polisi.
Sementara Rino bermain dengan makanannya, dan Gina melihat-lihat Polisi.

Polisi : Begini, bu. Kami ada berita duka. Kakak anda, Fia Lidya ditemukan tewas di sebelah kantor polisi kami. Ia telah dibunuh, dan kami kemari untuk menyelidiki kasus ini.

Ibu : (Terkejut, tidak percaya) Fia? gak mungkin kan? kemarin aku baru ketemu dia.

Ayah : (Terkejut, memegang tangan Ibu)

Polisi : Saya turut prihatin, bu.

Ibu : (Menangis) Gak mungkin, kan? gak mungkin....

Ayah : (memeluk, menenangkan ibu.)

Gina : (Menunduk, memegang kepalanya, sedih)

Rino : (Senyumnya hilang) Tante Fia....?

Polisi : Saya disini ingin mengecek alibi kalian.

Ibu : (dramatis) Dasar gak sensitif! Kita lagi sedih, malah tanya-tanya!!!

Ayah : Mungkin, lain waktu, pak Heru? Istri saya lagi emosional.

Polisi : Ya, kalau begitu lain kali saja. Saya permisi dulu (berdiri), maaf sudah merusak malam kalian.

Ibu : Maaf! maaf! dasar gak tahu diri!

Ayah : (menenangkan Ibu) sshhh, dek, gak apa....kita yang sabar aja....

Polisi : Kalau ada apa-apa, ini alamat sama nomor telepon saya. (mengeluarkan secarik kertas)

Gina : (Tiba-tiba, beranjak dari kursi makan, lalu berlari menuju polisi) Makasiih pak! (merebut kertas dari tangan Polisi)

Gina menjabat tangan Polisi erat-erat dengan tersenyum.

Ayah : Ah, ini anak saya yang pertama.

Polisi : Hai, nak. Namamu siapa?

Gina : Gina

Polisi : Hai Gina. Pak polisi pulang dulu ya.

Gina : Dadah pak polisi!

Polisi keluar panggung.

Gina kembali ke meja makan.

Rino : Siapa sih orang jahat yang bunuh tante Fia? Jahat banget sih dia!

Gina : No, aku ada dugaan. Aku cuma butuh mastiin. Jadi-....(bisik-bisik ke Rino)

Rino : (kaget) Serius, kak?

Gina : Iya, semoga orang tua kita setuju.

Lampu gelap. Ganti scene.

Semua, kecuali Polisi, duduk di meja makan.

Ibu : (masih menangis, memegang pisau)

Ayah : Sudah, dek...yang sabar....

Ibu : (Marah) Gimana bisa sabar?!! Emang enak kamu ngomong aja? Dia tumbuh sama aku, kak!!!
Aku sumpahin mati tuh yang bunuh!

Gina : Jangan gitu, bu.

Rino : (sarkastik) Kalau sumpahin mati kan sama kaya membunuh. Berarti Ibu jadi sama dong?

Ibu : (Menatap Rino agak lama) Kau (berdiri dari kursi) anak (mengambil pisau) Kurang ajar!!!

Rino : (mencoba kabur, terjatuh dari kursi)

Ayah : (panik) Bu, jangan! itu anak kita! taruh pisaunya!

Ibu : (Menampar Rino) Jaga mulutmu itu!!! (bersiap menusuk)

Ayah : (bersamaan dengan Gina, teriak) Lia!! Jangan!!!

Gina : (berteriak, beranjak dari kursi) Bu!!! jangan!!!!

Ibu menusuk Rino dengan pisau. Rino jatuh ke lantai dan mati.

Gina : (terkejut, menutup mulutnya, sambil menatap ngeri)

Ayah : (menghentikan Ibu yang mau menusuk Rino lagi)

Ibu : Lepas!!!

Ayah : Kau gila??? Kamu baru bunuh anak kita!!!

Ibu : (baru sadar) Rino? Rino? sadar, nak!

Ayah : Tak bisa bu. Ia sudah meninggal.

Ibu : (Menampar Ayah) Ini gara-gara kamu!!!!

Ayah : La? kok saya disalahin?

Ibu : (marah) Ah! Aku gak peduli! Kalau kamu disini, kenapa kamu biarin aku bunuh Rino?!!

Gina : (menutup kuping, stres) berhenti...berhenti kalian....

Ibu : Aku gak mau tahu!

Ibu keluar panggung.

Ayah : (sedih, melihat Rino) Rino.....

Gina : (sambil gemetar karena shock, menelpon) Halo? Pak Heru? Ibu saya membunuh adik saya....

panggung gelap.
Yang ada cuma Ayah dan Gina.

Ayah : Ya Tuhan....Berikan aku kesabaran...

Gina : (Diam, tapi sedih)

Polisi memborgol Ibu, masuk panggung

Ibu : Lepasin!!! Mereka yang buat aku jadi pembunuh!!!

Polisi : Tenang, bu Lia, kami akan bawa anda ke Menur.

Ibu : Lepas!!! Kau kira aku gak tau?! Setidaknya biarkan aku pamit dengan keluargaku!!!

Polisi : Baiklah. Saya beri 15 menit.

Polisi keluar panggung. Ibu duduk di sofa.

Ibu : Gina, maaf ya nak.

Ayah : Ya Tuhan, aku gak tahan lagi...(ambil pistol dari jaketnya lalu menodongkan ke Ibu)

Gina : Tunggu!! Ayah ngapain?!!

Ayah menembak Ibu, dan Ibu mati.

Gina : (menatap ngeri)

Ayah duduk di kursi makan, menutup wajahnya.

Gina : (Sedih, tetapi tiba tiba langsung tersenyum)

Gina berjalan ke meja makan, mengambil serbet, lalu berjalan di sekitar Ayah.

Gina : Kerja bagus, yah. Aku gak perlu khawatir tentang Ibu lagi (Tiba-tiba mencekik Ayah dengan serbet)

Ayah : (Tercekik, sambil berusaha melepaskan diri, tetapi Gina malah memperkuat cekikannya)

Ayah akhirnya mati. Gina mengecek nadinya di lehernya. Gina mengambil pistolnya lalu menaruh di dalam jaketnya. Gina lalu menyingkirkan tubuh mereka ke dalam taplak meja makan, sambil pura-pura berteriak.

Polisi : Bu Lia? Ada apa di dalam?

Gina : (Menggedor-gedor pintu) Pak Heru!!! Pak Heru!!! Tolong pak!!!

Polisi : Gina? Ada apa?

Gina : Pak! pak, tolong pak, saya diserang!

Polisi masuk ke dalam rumah dan Gina mengunci pintu. Mereka berdua duduk di sofa

Polisi : Ada apa? Siapa yang nyerang kamu?

Gina : (Panik, takut) Ibu saya bunuh Ayah, terus dia bunuh diri...(pura-pura menangis) Pembunuhnya, pak! aku tahu siapa yang  bunuh Tante Fia, adik saya dan orangtua saya! (memegang dada, mencoba mengatur nafas)

Polisi : Siapa pembunuhnya? Ibumu kan?

Gina : (Menarik pistol dari dalam jaketnya, lalu menodong pak Heru)

Suasana menjadi tegang, Pak Heru terkejut.

Polisi : Gina?

Gina : (memerintah sambil mengarahkan pistol) Berdiri.

Polisi : Gina, caranya gak bisa gini, kan-

Gina : Berdiri!!!

Polisi : (Berdiri dari sofa)

Gina : (Berdiri dari sofa dan menemukan senjata di jaket Polisi, lalu membuangnya) Kayaknya bapak tahu terlalu banyak, ya?

Polisi : Gina, kamu yang bunuh bu Fia? Kamu yang bunuh keluargamu?

Gina : (tertawa) Bapak kan polisi. Masa gak sadar sih? Gak mungkin dong satu keluarga bunuh-bunuhan kalau awalnya gak direncanakan.

Polisi : Kamu? Kamu yang menaruh mayat tantemu sendiri di sebelah kantor polisi? untuk nuduh saya?

Gina : (sinis, nada mengejek) ya, ya, aku yang naruh. Aku yang ngikutin tante Fia ke kantor polisi malam-malam buat ketemu kamu. Ya, aku gak tahu kalau kalian pacaran, jadi aku "secara sembarangan" bunuh tanteku, kemungkinan sih karena aku cemburu, tapi karena aku ceroboh, aku gak sempat ganti sepatu setiap kali pulang ke rumah dan lupa kalau ternyata darah tanteku masih ada di sepatuku selama ini. Apalagi kalau temanku bilang alibiku gak sempurna karena waktu itu aku lagi gak giliran jaga di *kantor polisi* (menodong pistol ke sepatu pak Heru) Iya, kan, pak Heru?

Polisi : (Terdiam, lalu tertawa sambil menepuk tangan) Bagus sekali, nak...bagus sekali. Ternyata kau sengaja membunuh untuk membawaku kesini? Ah, nak, Tantemu itu nyawanya murah, bisa saja mati tanpa ada yang kangen. Tapi kok aneh ya? Padahal temanku kusuap biar gak ngomong. Besok aku harus bunuh dia juga.

Gina : Oh, gak bakal kubiarin pak, tenang aja.

Polisi : Iya kah? ( Polisi menyerang Gina dan mendapatkan pistolnya)

Gina : (Berlari mendekati taplak meja)

Polisi : (menodong) eh eh eh....jangan nakal...Angkat tangan.

Gina : (Mengetuk meja makan)

Polisi : Kamu ngapain?

Tiba-Tiba Ayah dan Ibu keluar dari bawah meja dan menyerang Pak Heru. Pistolnya lepas.

Ayah : Gina! Ambil!

Gina mengambil pistol, lalu menodongkannya ke Polisi.

Gina : Pak Heru Susanto, anda ditangkap atas tuduhan pembunuhan tingkat satu. Anda akan dieksekusi atau menjalani hukuman pidana seumur hidup.

Ibu memukul Polisi.

Ibu : Itu untuk kakakku!!!

Lampu gelap.

Ganti Scene

Di meja makan, panggung, ada Ayah, Ibu dan Gina.

Ayah : Gak nyangka ya, kita bisa akting kaya gitu. Hebat kamu, Gin, kemarin penyelidikan bilang pak Heru memang pembunuhnya.

Gina : Iya, maaf ya aku nyuruh kalian kaya gitu.

Ibu : Gak apa, lagian ga semua aktingku palsu, kok....

Gina : Oh, iya. Rino dimana?

Ibu : Oh, entahlah...mungkin pisau yang kupakai betulan. (tertawa)

Gina terdiam. Menyadari kalau Ibunya terlalu menghayati dan Rino benar-benar meninggal.
Gina merasa bersalah telah membuat ibunya menjadi pembunuh betulan, lalu mengambil pistol asli yang disimpannya dan menembak dirinya sendiri di kepala.

Ayah : Astaga? Gina!!!!

Ibu : Ginaaaaaa!!!!!!

Selesai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar