Rabu, 18 Oktober 2017

Senin, 09 Oktober 2017

Annie are you ok?

I am Annie

Today he asks me multiple times if I am alright, fishing for an answer
Noting whether my letter was of a desperate call for help or of a concrete matter
I told him I was not ok, but I currently am.
And there he silently observes me, horrified of what I am

And he promised to help support me with tears forming in his eyes and with voice trembling
He was relieved to see me before him, behind his forced smiling
He is a father, he knows better that the last thing he wants to hear from a daughter is what I have said to him.

And so he knows he can no longer fuse the situation and subtly begs me to stay.
"Don't do it, my dear. Don't do it at all" he says
And so I return his promise with a promise that I will stay.

But then they ask again, "Annie, are you okay?" to me
And I can't even speak because I'm fucking dead already 😂

Selasa, 03 Oktober 2017

I'm alive

19 years and I'm standing here
19 years and I'm still drawing breaths
4 years and I'm still battlling.

I'm grateful that I get to see another day yet

Minggu, 01 Oktober 2017

*TRIGGER WARNING* It's killing me

When somebody told me I'm beautiful, I'm intelligent, I'm worthy, I'm a good person, and that I deserve to live, I replied with a smile.
I just wish that I believe them.

Selasa, 19 September 2017

RANT (ALL SMART PEOPLE PLEASE SKIP THIS)

My close friend is on her way to becoming a researcher with all her life planned out ahead of her. She has a clear vision of what she wants to be, speaks 3 languages, travelled the world and writes  so damn well. She's everything I always want to be but can't. She's my age. So age is not an excuse for me.
My bestfriend works hard every midnight to deal with high amount of projects from her art university. I'm studying psychology. Major should not be an excuse for me.
My other friend who is also asian like me is a hardworking genius who prepares for everything and is intimidatingly ambitious. But he's also a sweet guy who's kind to everyone. So culture is not an excuse for me.
My german friends are all hardworkers, searching for internships, moving freely, working overtime in the library every day with so much passion that I'm even ashamed of myself.
One of my friend has a work in airport that pays for his tuition and he's still young. I haven't worked shit in my whole entire goddamn life and I'm ashamed as hell.
My friend who has a mental illness is travelling the world, have many experiences of volunteering, speaking multiple languages and succeeds in her own way. So bad mental health is not an excuse for me.
My senior who has the same belief as I do worked hard, participated in every event, took every chance, danced two choreographies and played the angklung during the cultural event, did not go home for 2 years and still kept his shit together. So being religious and missing home is not an excuse for me.

I ain't done shit in my 19 years of life. I'm fucking aimless and I hate myself.

Minggu, 17 September 2017

Realita kuliah di luar negeri

Apa yang muncul pertama kali di benak kalian jika mendengar kata "saya kuliah di luar negeri"?
Apakah "Pasti orang elit yang ga lulus SBM"? Atau "Pasti jalan2 terus keliling dunia, belanja-belanja barang bermerk"? "Hidupnya pasti berfoya-foya, bak priyayi istana"? "Pasti sombong orangnya"? Atau malah "Oh makanya kamu begitu ya(membuat asumsi bahwa paham saya terpengaruh dengan tempat saya belajar , tergantung di negara yang sisi politiknya kemana)"

Sebaik apapun bertutur kata pasti selalu ada saja yang mencibir. Memanglah yang saya sebutkan hanya yang saya anggap negatif. Ini karena komentar negatif lebih mencolok dibandingkan banyaknya komentar positif yang saya terima. 

Memang, saya tak berhak menerima pujian. Saya berhasil studi ke Belanda sekarang atas bantuan banyak orang. Guru saya, kepala sekolah saya, orangtua saya, keluarga besar saya, semuanya punya peran dalam mewujudkan cita-cita saya. Karena hal ini, mengambil kesimpulan jika saya berhasil "hanya karena bapak banyak duit" itu tidak pantas karena mengucilkan perjuangan guru saya, keluarga besar saya dan saya sendiri dengan menyederhanakan kisah saya. Sekarang saya yang bercerita. Maka dengarkanlah.

Pertama-tama, ini bukan sebuah komplain. Tulisan saya bukan untuk menjatuhkan/menaikkan derajat suatu kaum. Saya tidak memihak, saya tidak mengeluh, saya hanya ingin memberi tahu realita sekolah diluar negeri agar orang indonesia bisa realistis sebelum mengambil keputusan. Saya ga butuh komentar "manja amat sudah enak sekolah diluar negeri masih ngeluh". Tulisan ini bukan keluhan. Tulisan ini adalah hasil observasi hidup saya dan teman-teman saya selama 1 tahun di Belanda, agar semua orang tahu kenyataannya. 

Sebelum pembaca mulai nyinyir lagi "kok bahasa indonesianya aneh sih", saya akan mulai perkenalan dahulu. Saya lahir di Surabaya, tetapi keluarga besar ibu kandung saya adalah orang Dayak (Kalimantan Tengah) yang bermigrasi ke Banjarmasin (Kalimantan Selatan) yang lalu bermigrasi dan menetap di Surabaya. Nenek ayah saya berasal dari Cirebon, tetapi turun-temurun menetap di Tulungagung (Jawa Timur). Waktu saya kecil, saya mendengar banyak bahasa. Bahasa ibu saya bahasa indonesia yang dicampur bahasa banjar. Maka logat saya cepat dan saya belajar tata bahasa dengan pengaruh melayu. Lalu saat saya pindah rumah, saya juga pindah sekolah ke sekolah bilingual. Sekolah bilingual adalah sekolah yang memakai dua bahasa, waktu itu bahasa indonesia dan bahasa inggris. Saya dituntut untuk mampu berbahasa inggris setiap hari, saya mati-matian belajar sepanjang SD dan tidur dengan kamus indonesia-inggris di samping saya. Semua orang yang bisa lebih dari 1 bahasa pasti mengerti betapa susahnya mengartikan kata-kata satu2, Seperti guru saya yang pernah berkata "tapi orang itu, apa ya, kalo bahasa jawanya ngalem gitu lo".

Cukup soal bahasa saya. Mari kembali ke topik awal. Bagaimana orang bisa tahu suasana kuliah diluar negeri seperti apa? Tahu cukup, sampai bisa membuat asumsi tentang orang yang kuliah diluar negeri?
Tapi apa yang kalian lihat di film?

Sahabat-sahabat yang mengejar mimpi lalu ada pertikaian dan cinta segitiga?  Seru-seruan travelling melihat bangunan-bangunan eropa yang apik? Perjuangan  keras merantau yang tiba-tiba dibumbui cerita cinta dan perjuangannya jadi kalah valid dengan kekuatan cinta? Aktor setengah bule yang sudah cantik sesuai beauty standard indonesia (yg ironis dan tak adil)? Apartemen bagus dan baju mewah bermerk? Belanja dan bersepeda di udara yang bersih? Terdampar di suatu negara dan menikah dengan bule ganteng?

Saya tak bisa bilang semua yang tersebutkan itu salah.

Tapi tak ada kisah tentang kami yang bersepeda sambil diterpa angin ganas dan salju hanya demi kuliah. Tak ada cinta di kisah kami, hanya semangat demi cita-cita dan solidaritas sesama orang indonesia yang merantau. Tak ada kisah tentang takut visa dicabut. Tak ada kisah tentang homesickness, tentang betapa sendirinya mahasiswa indonesia yang diluar negeri, yang tak bisa travelling karena menyimpan uang untuk pulang bukan pas lebaran. Tak ada kisah tentang  pengalaman rasisme dan diskriminasi (walaupun di Belanda, untungnya, sangat jarang terjadi). Tak ada cerita tentang dikucilkan karena bermuka asia tapi kepala berkerudung. Tak ada cerita tentang kelewatan ngucapin selamat ulang tahun karena perbedaan waktu, tak ada kisah tentang tak bisa datang ke pernikahan teman dekat di indonesia, tak ada kisah tentang adik-adik yang tiba2 sudah dewasa sewaktu kami kembali.

Tak ada kisah tentang korupsi moral dan krisis iman, tak ada kisah tentang pembaruan moral dan penemuan iman. Tak ada cerita tentang repotnya mengurus tuition fee dan jarang makan demi ngejar waktu kuliah. Tak ada kisah tentang harus kerja part-time karena perusahaan/orangtua terlambat ngirim uang karena kurs yang berubah-ubah. Tentang bawa botol air ke toilet karena gaada shower, tentang absurdnya naruh kaki di wastafel waktu wudhu. Tentang puasa 19 jam sambil sepedaan sementara yang lain makan dan merayakan hari raya jauh dari rumah. Tentang susahnya mencari gereja dengan bahasa yang dimengerti.

Tentang berdoa seorang diri karena tak ada yang beragama sama, tentang mengutuk Tuhan karena tak ada yang berpendapat sama. Tak ada kisah tentang menghalalkan segala cara demi lulus ujian dan coba-coba ganja (yang diperbolehkan kalau sedikit di Belanda) karena stres. Tentang terlalu banyak merokok, tentang berkunjung ke klub-klub murah  dan minum-minum sampai setengah gila. Tentang adaptasi dari culture shock yang tidak sebentar, repot sendiri kalau sakit berat, dan, yang paling sering diabaikan tapi ini benar-benar terjadi,  (dengar dari teman2 indo di Jerman) menurunnya kesehatan jiwa karena stres kuliah dan adaptasi sampai depresi dan bunuh diri hingga meninggal di negeri orang. Dan yang paling suram: tak ada cerita tentang mahasiswa yang tak tahu seperempat anggota keluarganya sudah meninggal semua selama dia masih studi, dan dia ga bisa ngapa-ngapain. Dia ga bisa ngelayat, ga ingat kapan terakhir kali ketemu mereka, ga ikut 40 hariannya dll.

Fiksi tidak menunjukkan pengorbanan yang lekat dengan realita mahasiswa indonesia diluar negeri. Ini hanya sebagian kumpulan kisah dari teman-teman saya dan pengalaman pribadi, bukan cerita sepenuhnya. Untuk yang ingin menulis novel dengan setting kuliah diuar negeri, mohon semua faktor ini dianggap. Kalau kamu orang yang ingin kuliah di luar negeri, tanyakan dirimu sendiri lagi

Kamu yakin?

Senin, 11 September 2017

Aaron's pre-surgery speech

Every day that I am awake not feeling fatigued
Every moment that I indulge in streams of laughter
Every hour that concerns are no more after me
Every second of a felt cheer and content with how I am
And found myself still taking breaths
And found myself living my life as I am
And found my eyes widely awaken with a smile forming upon my lips
Are my small victories against my lifelong disease
And I shall cherish it. For the battle is lifelong and I am a fighter. Eventually I win because I have chosen to live.

And I may never die a saint
But I will take my chance to live as a good man.

*"man" as in "human race"

Kamis, 31 Agustus 2017

Collections of self memes

Celebrating the greatest self deprecating joke ever told to me by gleefully posting self-generated memes : my birth day.







video


Selasa, 13 Juni 2017

Ratoh Duek Dance (From Indonesian Day 2017)

Ratoh Duek posted here is a variant of Saman dance (I guess? just with two males) performed during Indonesian day and dinner 2017 last May. I'm posting it here because I love the choreography so much and that accompanying song is forever stuck in my head. For the full version of all performances, check out my previous post titled "Indonesian Day full performances"

Credits goes to PPI Groningen


Jumat, 09 Juni 2017

Crack

I am a privileged young woman.
I have lived in comfort most of life in which I always get more than I deserve
But what comforts me was not wealth, nor residing under a waterproof roof,
Nor being driven across the city in a red Mazda 2, nor to have enough balance to purchase something I long for.
It's family. And I have taken myself 12000 km away from my own comforts

I am mad enough to leave my lifelong comfort in trade for such uncertainty, blinded by naive dreams of becoming a researcher.
I am mad enough to leave my most cherished thing in life for such glorified hardship, unaware of how far can it changes me

However, this hardship is not a hardship. For I am a privileged young woman.
And I don't deserve to feel sad. I am not entitled to make complaints.
I do not recognise what hardship is, thus how can I say more about it?

crack

I was raised as a studious Swann in a controlled environment,
Now thrown into a cage of wolves that this world is always like
I am too soft to be living, too fragile to be assertive
Too spoiled in an independent world, disgustingly mellow and dependent

I have been low for 5 months and my failures are not helping me.
I am a shame, a disgrace, worth nothing more than a token 18-year old Indonesian

What I've been feeling is vividly real and yet my problems are not.

I have a cowardly mentality
crack
I have a weakened will
crack
Everyone else has it worse than I do
crack
I am not trying hard enough
crack
I am one ungrateful bitch
-crack

It's all in my head


right?

Minggu, 04 Juni 2017

Kamis, 01 Juni 2017

Awesome 4-hands piano arrangement

This is the four seasons complete movements. These two did a great job, I think you should check it out!

Minggu, 21 Mei 2017

Other rehearsed songs, actual performances and fellow angklung players

So these are the other songs we performed for Indonesian Day 2017. These are not the actual performance but is the rehearsal the day before the event.

Songs are Jessie J - Flashlight and Nat King Cole - L.O.V.E

Regarding the actual performance during the event, I only found a video that's very short. 

video

But hey, my hair was nice

And we, as angklung players, are very cohesive as a group


video

I was elated that we did it and I'm thankful that we ever met! 😀 (gak full team :(, unfortunately)








Indonesian Day 2017- Medley (full version)

When we were performing this song yesterday, we stopped midway because people were singing along and we got confused so we ended up singing along instead  in case anyone is curious how the medley sounds like in Angklung only, this is the video. The playing was not perfect because we were still in rehearsal in this video. Even we had somebody taking over because one of the player didn't come (The most right next to me).
Enjoy the epic messiness 
The song is a medley of regional Indonesian songs from Maluku island : Nona Manis- Ayo mama- Rasa Sayange



Rabu, 10 Mei 2017

Gadis Melati

Gadis Melati

Siapa gadis berselendang putih itu?
Yang berpapar seri dan berkalung rangkaian melati
Yang cahayanya meredup dan tersedu-sedu
Menghitam disinar sabit yang sirna setelah matahari

Nyawa untuk nyawa, ujar mereka
Sang kuasa kami bela, ujar tuan tanah
Penguasa cukup berkuasa, ujarnya
Apadaya kau berpantang amanah?

Kakinya melayang berpapasan dengan surau tua
Tampaknya adalah api dari gereja tetangga
Dan kuil-kuil yang tanah-rata, porak-poranda
Terserak penggalan filsuf dan penggalan berhala

Wahai saudara sedarah
Tak berpeluhkah kau marah?

Sabtu, 01 April 2017

Cerpen "Tentang Dia" (untranslated)

English version will follow.

Awalnya aku rentan saja beradu dengan otak sendiri. Dia jelek. Dialah beban. Dia pereka ihwal. Dia lawanku. Dia bahkan belum penuh umur. Benciku layaknya hamba sahaya. Syukur saja kami telah berpisah karena berseteru yang sengit di media sosial.  Tetapi, akhirnya selalu sama saja.
Tak hitung-hitung sudah dua purnama tak tampak wajahnya. Sukma juga tak tahan karena lama tak berjumpa. Dia cantik. Dialah karunia. Dia pelipur lara. Dia kawanku. Dan dia sebaya. Nurani menghujat hebat ego yang rapuh dan menyuruhku meminta maaf. Lalu meminta maaflah aku
.
Aku bertukar pakaian, lalu beranjak dari rumah menuju taman tempat kami pertama kali bertemu. Sudah kuduga, dia disana sambil terduduk di ayunan yang sudah karatan. Durjanya adalah perempuan muda yang tingginya tak wajar dan berbadan agak tambun. Rambutnya legam kebiruan yang menjuntai sepanjang pinggulnya. Warna kulitnya berubah-ubah seakan tergantung cahaya dan rona hati tiap harinya. Paras elok sih iya, tetapi ia lebih pantas dikatakan rancak. Sebab, aku melihatnya lebih seperti karakter kartun dibandingkan perempuan biasa.

Kemudian, duduklah aku di ayunan sebelahnya. Mata keemasannya melotot, udara dihembuskannya kuat-kuat seperti terlalu letih. Air mukanya mendidih, lalu berpalis seperti anak kecil.

“Maafkan aku. Aku yang salah” pintaku.

“Iya! Kau yang salah!” cetusnya dengan galak. “Apa-apaaan kau dua bulan tidak berkabar, hah?!”

“Kau sih, pakai bertanya soal tugas kuliah. Ya jelas aku pilih tugas lah.” Jelasku. Walau aku mengerti baik betapa tak akan didengarnya itu.

“Dungu kau! Senang itu perlu! Tak usah berlagak belajar melulu, kau juga manusia!” Dia menyalak. 

“Sudah begitu sambil minta putus, lah!”

“Maaf, zur. Habisnya, kau sangat kekanakan” Jawabku lagi. Azura, itu namanya.

“Kekanakan? Kau tuh yang suka sok. Jangan dewasa sebelum waktunya. Alam yang menentukan, jangan malah dipercepat” Katanya, dengan nasehatnya yang ngaco. Dia pikir alam belum menentukan setelah sekian lama?

“Tapi jenuh telah memikatku. Ini bukan perkara kau, namun aku” sebutku lagi, mengais-ngais alasan. Walaupun jangka pisahnya kami kalah telak dengan rindu, perpisahan kami tetap keputusan yang logis. Setidaknya aku ingin kami berpisah dengan damai.

“Tega ya kau, beralasan basi serupa itu!” Seketika dia berdiri dari ayunan, lalu mendorongku sampai aku mencium rumput.

“Jangan begitu lah!” Aku protes. Dia pikir dia siapa?

“Aku ini pendukungmu, tak sadar kah kau?!” Ujarnya, seakan menebak pikiranku. “Kau kenapa sih? Tiap kali bertemu, selalu saja melarikan diri. Seperti sapi dikejar jagal saja.”

Aku menghela nafas. Dengan berat hati, jujurlah aku berujar. “Aku malu. Aku malu terlihat denganmu”

Dia terdiam sejenak. Dengan heranlah matanya menatapku, bingung akan perkataanku. Apa ia jujur? Apa ia berdusta? Pikirnya. Kemudian, berpikirlah ia masak-masak, selagi omongku gampang dicerna. Lalu dilihatlah sekelilingnya. Hanya anak-anak belia yang bermain di taman ini. Tak sulit jua jika ia mengerti benar mengapa aku malu. Mendadak, disambarlah lenganku, diangkatlah aku dari tanah dan dipaksalah aku duduk di ayunan tersebut.

“Azura, jangan membuatku tampak bodoh. Aku harus menulis esai, mengerjakan PR, membuat 
presentasi dan-“

“Aih! Diamlah sejenak. Menurutlah padaku!” Tangannya menutup mulutku dengan paksanya.  “Tenang, dan jangan khawatir.”

Begitulah kata-kata ajaibnya acap kali aku resah hatinya. Lalu menurutlah aku padanya, kubuanglah jauh-jauh rasa malu dan kuterimalah apa yang akan dibuatnya. Dengan halusnya, ia mendorong ayunan dengan aku terduduk diatasnya. Kaki terangkat dari tanah dan aku melayang beberapa detik membelah udara. Mungkin ia benar sedikit. Ataupun benar sekali. Mungkin aku terlalu serius beberapa bulan ini. Mungkin aku berusaha terlalu keras untuk menjadi dewasa, sehingga salah mengartikan kedewasaan sebagai ajang anti berseri-seri.

Kalau diingat-ingat sudah lama sekali sejak kami berkawan. Sejak kecil dia selalu tinggal di dekat rumahku, selalu mencariku setiap sore untuk bermain. Pribadinya tak kenal ampun, tak kenal rasa takut ataupun malu. Kali waktu masa SD, aku mengikuti lomba berkisah berjudul Rapunzel, lalu dialah yang menyuruhku berdandan menjadi Rapunzel. “Supaya mendalami karakter” ujarnya. Aku ingat sekali, sebab aku menang hanya karena berhasil membuat penonton tertawa geli melihat anak lelaki dengan polosnya memakai wig dan gaun sambil berimprovisasi. Kali hari masa SMP, aku menaruh hati kepada anaknya ibu kantin sekolah, lalu dialah yang memaksaku untuk maju. Aku sampai harus meminta bunga dari kebun milik tetangga karena seganlah meminta uang ke orangtua.

“Melihat kolam itu, aku jadi terkenang saat kau tercebur di kolam pamanmu karena ingin melihat ikan” Katanya, penuh nostalgia.

“Omong kosong. Bukannya kau yang mendorongku?” Sangkalku sambil tertawa. “Lalu, bukannya membantu, kau malah menceburkan diri!”

Kami tertawa terbahak-bahak mengingat kembali masa kanak-kanak dan masa muda kami. Hilir angin siang berhembus membelai lembut tubuhku yang terayun. Hari yang mendung dibuat hangat oleh kisah kasih kami dari masa lalu. Sudah lama sekali rasanya kami hanya berdua seperti ini.  Seketika, tak perdulilah diriku ditertawakan anak-anak kecil yang bermain di taman. Seketika, aku tersadar betapa sepinya dua bulan berlalu tanpa Azura.

 “Sudah sore, lekaslah kita pulang” saranku. Diluar dugaanku, ia malah tersenyum dan setuju denganku. Jalan pulang kami harus melewati gang kuburan, curiga sudah diriku akan rencananya melewati gang ini.

“Memangnya tak ada jalan lain ya?” sindirku padanya.

Dia tak peduli padaku, malahan berlari kedalam kompleks kuburan dan kepada suatu batu nisan berwarna kelabu. Dengan ukirannya dan nama yang tertera, aku kenal betul kuburan itu. Ayah. Jelas -jelas aku tidak suka kuburan. Aku tidak suka diingatkan akan hal sepedih kematian. Aku memaksanya untuk pergi dari sini, tapi dia malah berdoa. Tapi dia juga benar, sudah lama rasanya aku tak berziarah. Lalu ikutlah aku berdoa sampai selesai.

“Mengapa kau masih tetap denganku, sekalipun aku tak lagi laik buatmu?” Bisikku kepadanya.

“Sebab akulah pengingat bahwa kau telah berhasil melalui banyak cobaan Tuhan” Ujarnya, entah kenapa dia tiba-tiba menjadi dramatis.

Senja itu berlalu dengan kami yang berjalan pulang dari memori yang perih.
***
Aku terkejut.

Dia tak lagi mendengkur di sofa. Dia tak ada di dalam rumah.

Aku panik. Aku tak tahu kemana pula ia pergi. Apa aku harus menunggu dua bulan lagi?
Serentak, aku beranjak keluar rumah lalu mencarinya ke taman lagi. Syukur saja ternyata dugaanku benar. Kali ini dia terduduk di bangku taman sambil menatap keluarga kecil yang sedang piknik. Aku mendekatinya, hampir memarahinya karena membuatku khawatir, tetapi kutahanlah nafsuku. Aku justru duduk disampingnya, mencoba berunding tanpa berselisih.

“Indah ya” ujarnya, suaranya terdengar serius. Padam sudah niatku untuk memarahinya. Seketika nalarku menduga-duga dengan pesimis. Bahwa dia ingin tetap berpisah denganku.

“Iya, riang sekali mereka” Aku mencoba unuk setuju, mata tertuju kepada anak kecil yang berlari dari ibunya yang mengejarnya. Ayahnya hanya tertawa saja.

“Tak bisa seperti itu lagi ya” Nadanya kecewa. “Tampaknya kita tetap harus berpisah”
Akhirnya dia sepakat jua. Namun, ada apa gerangan aku merasa berat hati?

 “Azura?” Aku menguatkan diriku, ia menoleh. “Terima kasih, ya”

Kuulur tanganku untuk menjabatnya, seakan berterima kasih atas pengalaman yang ia berikan. Kugenggam tangan halusnya untuk terakhir kali. Perlahan, ia menarik lenganku lalu memeluk erat diriku, disambung senyum yang pedih. Duka dan air rana tak ada karena aku tak sudi. Tak sudi karena harga diri dan sebab telah berjanji pada diri untuk yang kesekian kali. Daguku bersandar di bahu Azura, wangi lavender dan rambut birunya kian melekat dalam ingatan ini.
Seketika, nampaklah anak tersebut bermain dengan kedua orangtuanya yang lucu. Badan mungil diangkat sang ayah dan gelak tawa bahagia mereka penuh merdu. Lalu sudilah diriku.

“Ah, hapus itu!” Azura melepas pelukannya, lalu mengejekku karena menangis.

“Diam kau!” Balasku sambil tertawa. “Dua dasawarsa, zur. Akhirnya kita putus juga” candaku. Azura tertawa manis.

“Jadikan pelajaran saja. Yang penting kita sudah senang bersama kan?” Tuturnya, nada suaranya tanpa beban.

Kami terdiam sejenak. Aku menatap dia dan mulai berpikir apa ini keputusan yang baik, lalu berpaling dan meyakinkan diriku sendiri supaya konsisten. Azura beranjak dari bangku taman, tersenyum kepadaku dan berkata dengan sepenuh hati.

“Selamat tinggal. Dan selamat jalan.”

Kemudian berlalulah ia menuju sang anak mungil itu. Ia pergi tanpa pikir tentang aku lagi. Menolehpun tidak. Aku ingin dia tak lagi melangkah, aku berdoa agar dia kembali padaku lagi. Tapi tak mungkin. Yang lalu harus sudah berlalu. Begitulah hukum alamnya Tuhan.

Andaikala waktu dapat berhenti tanpa merusak alam semesta dan seluruh dunia diantaranya. Aku akan berpuas diri menghabiskan seharian bersamanya, akan kembali ke hari dimana masalah belum ada. Dimana bahagia sudah terbayar dengan sebungkus telur gulung dan sepuluh butir kelereng. Waktu arti teman adalah anak yang pernah bermain bola bersamaku. Saat Ayah masih memgambil nafas dan sewot jika aku begadang di hari sekolah. Tapi tak bisa. Aku tak bisa menerka-nerka akan masa yang akan datang.

Walaupun berat, dan airmataku telah jatuh, aku akan berusaha semampuku untuk merelakannya. Karena dia cantik. Dialah karunia. Dia pelipur lara. Dia kawanku. Dan dia sebaya.



Dia, wujud insan masa beliaku.

Kamis, 02 Maret 2017

Overnight curls

Due to the fact that I'm shit at posing like a goddamned model, I decided to pose with all my flaws instead. But it's the hair that counts.