Sabtu, 01 April 2017

Cerpen "Tentang Dia" (untranslated)

English version will follow.

Awalnya aku rentan saja beradu dengan otak sendiri. Dia jelek. Dialah beban. Dia pereka ihwal. Dia lawanku. Dia bahkan belum penuh umur. Benciku layaknya hamba sahaya. Syukur saja kami telah berpisah karena berseteru yang sengit di media sosial.  Tetapi, akhirnya selalu sama saja.
Tak hitung-hitung sudah dua purnama tak tampak wajahnya. Sukma juga tak tahan karena lama tak berjumpa. Dia cantik. Dialah karunia. Dia pelipur lara. Dia kawanku. Dan dia sebaya. Nurani menghujat hebat ego yang rapuh dan menyuruhku meminta maaf. Lalu meminta maaflah aku
.
Aku bertukar pakaian, lalu beranjak dari rumah menuju taman tempat kami pertama kali bertemu. Sudah kuduga, dia disana sambil terduduk di ayunan yang sudah karatan. Durjanya adalah perempuan muda yang tingginya tak wajar dan berbadan agak tambun. Rambutnya legam kebiruan yang menjuntai sepanjang pinggulnya. Warna kulitnya berubah-ubah seakan tergantung cahaya dan rona hati tiap harinya. Paras elok sih iya, tetapi ia lebih pantas dikatakan rancak. Sebab, aku melihatnya lebih seperti karakter kartun dibandingkan perempuan biasa.

Kemudian, duduklah aku di ayunan sebelahnya. Mata keemasannya melotot, udara dihembuskannya kuat-kuat seperti terlalu letih. Air mukanya mendidih, lalu berpalis seperti anak kecil.

“Maafkan aku. Aku yang salah” pintaku.

“Iya! Kau yang salah!” cetusnya dengan galak. “Apa-apaaan kau dua bulan tidak berkabar, hah?!”

“Kau sih, pakai bertanya soal tugas kuliah. Ya jelas aku pilih tugas lah.” Jelasku. Walau aku mengerti baik betapa tak akan didengarnya itu.

“Dungu kau! Senang itu perlu! Tak usah berlagak belajar melulu, kau juga manusia!” Dia menyalak. 

“Sudah begitu sambil minta putus, lah!”

“Maaf, zur. Habisnya, kau sangat kekanakan” Jawabku lagi. Azura, itu namanya.

“Kekanakan? Kau tuh yang suka sok. Jangan dewasa sebelum waktunya. Alam yang menentukan, jangan malah dipercepat” Katanya, dengan nasehatnya yang ngaco. Dia pikir alam belum menentukan setelah sekian lama?

“Tapi jenuh telah memikatku. Ini bukan perkara kau, namun aku” sebutku lagi, mengais-ngais alasan. Walaupun jangka pisahnya kami kalah telak dengan rindu, perpisahan kami tetap keputusan yang logis. Setidaknya aku ingin kami berpisah dengan damai.

“Tega ya kau, beralasan basi serupa itu!” Seketika dia berdiri dari ayunan, lalu mendorongku sampai aku mencium rumput.

“Jangan begitu lah!” Aku protes. Dia pikir dia siapa?

“Aku ini pendukungmu, tak sadar kah kau?!” Ujarnya, seakan menebak pikiranku. “Kau kenapa sih? Tiap kali bertemu, selalu saja melarikan diri. Seperti sapi dikejar jagal saja.”

Aku menghela nafas. Dengan berat hati, jujurlah aku berujar. “Aku malu. Aku malu terlihat denganmu”

Dia terdiam sejenak. Dengan heranlah matanya menatapku, bingung akan perkataanku. Apa ia jujur? Apa ia berdusta? Pikirnya. Kemudian, berpikirlah ia masak-masak, selagi omongku gampang dicerna. Lalu dilihatlah sekelilingnya. Hanya anak-anak belia yang bermain di taman ini. Tak sulit jua jika ia mengerti benar mengapa aku malu. Mendadak, disambarlah lenganku, diangkatlah aku dari tanah dan dipaksalah aku duduk di ayunan tersebut.

“Azura, jangan membuatku tampak bodoh. Aku harus menulis esai, mengerjakan PR, membuat 
presentasi dan-“

“Aih! Diamlah sejenak. Menurutlah padaku!” Tangannya menutup mulutku dengan paksanya.  “Tenang, dan jangan khawatir.”

Begitulah kata-kata ajaibnya acap kali aku resah hatinya. Lalu menurutlah aku padanya, kubuanglah jauh-jauh rasa malu dan kuterimalah apa yang akan dibuatnya. Dengan halusnya, ia mendorong ayunan dengan aku terduduk diatasnya. Kaki terangkat dari tanah dan aku melayang beberapa detik membelah udara. Mungkin ia benar sedikit. Ataupun benar sekali. Mungkin aku terlalu serius beberapa bulan ini. Mungkin aku berusaha terlalu keras untuk menjadi dewasa, sehingga salah mengartikan kedewasaan sebagai ajang anti berseri-seri.

Kalau diingat-ingat sudah lama sekali sejak kami berkawan. Sejak kecil dia selalu tinggal di dekat rumahku, selalu mencariku setiap sore untuk bermain. Pribadinya tak kenal ampun, tak kenal rasa takut ataupun malu. Kali waktu masa SD, aku mengikuti lomba berkisah berjudul Rapunzel, lalu dialah yang menyuruhku berdandan menjadi Rapunzel. “Supaya mendalami karakter” ujarnya. Aku ingat sekali, sebab aku menang hanya karena berhasil membuat penonton tertawa geli melihat anak lelaki dengan polosnya memakai wig dan gaun sambil berimprovisasi. Kali hari masa SMP, aku menaruh hati kepada anaknya ibu kantin sekolah, lalu dialah yang memaksaku untuk maju. Aku sampai harus meminta bunga dari kebun milik tetangga karena seganlah meminta uang ke orangtua.

“Melihat kolam itu, aku jadi terkenang saat kau tercebur di kolam pamanmu karena ingin melihat ikan” Katanya, penuh nostalgia.

“Omong kosong. Bukannya kau yang mendorongku?” Sangkalku sambil tertawa. “Lalu, bukannya membantu, kau malah menceburkan diri!”

Kami tertawa terbahak-bahak mengingat kembali masa kanak-kanak dan masa muda kami. Hilir angin siang berhembus membelai lembut tubuhku yang terayun. Hari yang mendung dibuat hangat oleh kisah kasih kami dari masa lalu. Sudah lama sekali rasanya kami hanya berdua seperti ini.  Seketika, tak perdulilah diriku ditertawakan anak-anak kecil yang bermain di taman. Seketika, aku tersadar betapa sepinya dua bulan berlalu tanpa Azura.

 “Sudah sore, lekaslah kita pulang” saranku. Diluar dugaanku, ia malah tersenyum dan setuju denganku. Jalan pulang kami harus melewati gang kuburan, curiga sudah diriku akan rencananya melewati gang ini.

“Memangnya tak ada jalan lain ya?” sindirku padanya.

Dia tak peduli padaku, malahan berlari kedalam kompleks kuburan dan kepada suatu batu nisan berwarna kelabu. Dengan ukirannya dan nama yang tertera, aku kenal betul kuburan itu. Ayah. Jelas -jelas aku tidak suka kuburan. Aku tidak suka diingatkan akan hal sepedih kematian. Aku memaksanya untuk pergi dari sini, tapi dia malah berdoa. Tapi dia juga benar, sudah lama rasanya aku tak berziarah. Lalu ikutlah aku berdoa sampai selesai.

“Mengapa kau masih tetap denganku, sekalipun aku tak lagi laik buatmu?” Bisikku kepadanya.

“Sebab akulah pengingat bahwa kau telah berhasil melalui banyak cobaan Tuhan” Ujarnya, entah kenapa dia tiba-tiba menjadi dramatis.

Senja itu berlalu dengan kami yang berjalan pulang dari memori yang perih.
***
Aku terkejut.

Dia tak lagi mendengkur di sofa. Dia tak ada di dalam rumah.

Aku panik. Aku tak tahu kemana pula ia pergi. Apa aku harus menunggu dua bulan lagi?
Serentak, aku beranjak keluar rumah lalu mencarinya ke taman lagi. Syukur saja ternyata dugaanku benar. Kali ini dia terduduk di bangku taman sambil menatap keluarga kecil yang sedang piknik. Aku mendekatinya, hampir memarahinya karena membuatku khawatir, tetapi kutahanlah nafsuku. Aku justru duduk disampingnya, mencoba berunding tanpa berselisih.

“Indah ya” ujarnya, suaranya terdengar serius. Padam sudah niatku untuk memarahinya. Seketika nalarku menduga-duga dengan pesimis. Bahwa dia ingin tetap berpisah denganku.

“Iya, riang sekali mereka” Aku mencoba unuk setuju, mata tertuju kepada anak kecil yang berlari dari ibunya yang mengejarnya. Ayahnya hanya tertawa saja.

“Tak bisa seperti itu lagi ya” Nadanya kecewa. “Tampaknya kita tetap harus berpisah”
Akhirnya dia sepakat jua. Namun, ada apa gerangan aku merasa berat hati?

 “Azura?” Aku menguatkan diriku, ia menoleh. “Terima kasih, ya”

Kuulur tanganku untuk menjabatnya, seakan berterima kasih atas pengalaman yang ia berikan. Kugenggam tangan halusnya untuk terakhir kali. Perlahan, ia menarik lenganku lalu memeluk erat diriku, disambung senyum yang pedih. Duka dan air rana tak ada karena aku tak sudi. Tak sudi karena harga diri dan sebab telah berjanji pada diri untuk yang kesekian kali. Daguku bersandar di bahu Azura, wangi lavender dan rambut birunya kian melekat dalam ingatan ini.
Seketika, nampaklah anak tersebut bermain dengan kedua orangtuanya yang lucu. Badan mungil diangkat sang ayah dan gelak tawa bahagia mereka penuh merdu. Lalu sudilah diriku.

“Ah, hapus itu!” Azura melepas pelukannya, lalu mengejekku karena menangis.

“Diam kau!” Balasku sambil tertawa. “Dua dasawarsa, zur. Akhirnya kita putus juga” candaku. Azura tertawa manis.

“Jadikan pelajaran saja. Yang penting kita sudah senang bersama kan?” Tuturnya, nada suaranya tanpa beban.

Kami terdiam sejenak. Aku menatap dia dan mulai berpikir apa ini keputusan yang baik, lalu berpaling dan meyakinkan diriku sendiri supaya konsisten. Azura beranjak dari bangku taman, tersenyum kepadaku dan berkata dengan sepenuh hati.

“Selamat tinggal. Dan selamat jalan.”

Kemudian berlalulah ia menuju sang anak mungil itu. Ia pergi tanpa pikir tentang aku lagi. Menolehpun tidak. Aku ingin dia tak lagi melangkah, aku berdoa agar dia kembali padaku lagi. Tapi tak mungkin. Yang lalu harus sudah berlalu. Begitulah hukum alamnya Tuhan.

Andaikala waktu dapat berhenti tanpa merusak alam semesta dan seluruh dunia diantaranya. Aku akan berpuas diri menghabiskan seharian bersamanya, akan kembali ke hari dimana masalah belum ada. Dimana bahagia sudah terbayar dengan sebungkus telur gulung dan sepuluh butir kelereng. Waktu arti teman adalah anak yang pernah bermain bola bersamaku. Saat Ayah masih memgambil nafas dan sewot jika aku begadang di hari sekolah. Tapi tak bisa. Aku tak bisa menerka-nerka akan masa yang akan datang.

Walaupun berat, dan airmataku telah jatuh, aku akan berusaha semampuku untuk merelakannya. Karena dia cantik. Dialah karunia. Dia pelipur lara. Dia kawanku. Dan dia sebaya.



Dia, wujud insan masa beliaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar